Bakso Tusuk yang Mengantar Yassaroh ke Belanda

Hidup sederhana sejak kecil tak menyurutkan niat Yassaroh untuk mengejar pendidikan tinggi. Walaupun terpaksa menghapus cita-cita menjadi dokter, Yass kecil memasang target untuk dirinya, paling tidak harus bisa menjadi doktor. Melalui beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) lah Yassaroh mengejar impian sampai ke negara kincir angin.

 photo680071495836346326

Cita-Cita Yassaroh

Gadis manis berkacamata yang pendiam ini bernama Yassaroh atau akrab dipanggil Yass. Nama yang sederhana, namun di balik kesederhanaan sosoknya tersimpan tekad kuat membara. Putri pertama pasangan Miftahuddin dan Marmina Indrawati ini pantas menjadi sosok inspiratif.

Sejak dulu Yassaroh dibiasakan untuk berhemat dan menabung dari sisa uang jajan atau kalau perlu berusaha mendapatkan uang tambahan dari beragam kompetisi. Profesi kedua orangtuanya yang sederhana, yaitu penjual bakso tusuk keliling dan usaha warung di rumahlah yang memaksa kondisi demikian.

Kondisi ekonomi tersebut membuat Yassaroh terpaksa menyimpan niat mulia dalam hatinya: menjadi dokter. Masih jelas dalam ingatannya ketika sang ayah bertanya pada seorang tetangga yang anaknya kuliah di Fakultas Kedokteran. Reaksi tetangganya singkat, padat, tetapi menyentak batin Yassaroh: “Mahal Mas, Mas gak mungkin sanggup membiayai Yassaroh kuliah di Kedokteran.”

Masa Kecil Yassaroh

Hidup sederhana tak membuat masa kecil Yassaroh kelabu. Ia bahkan dengan bangga menyatakan bahwa kehidupannya sangat bahagia dengan ayah yang rajin membonceng antar jemput sekolah dengan sepeda. Yassaroh ingat masa-masa di mana ia berceloteh dengan riang, berbagi cerita harinya pada ayahanda. Tak hanya itu, ayahnya juga telaten meninabobokkan Yassaroh kecil sehabis berjualan di warung.

Harus diakui, celaan dan hinaan juga sempat menerpa kehidupan Yassaroh muda. Suatu hari saat sedang belajar tiba-tiba seorang temannya secara spontan berkomentar

“Halah, Yass, untuk apa kamu belajar terus. Mendingan kamu pulang kampung aja ke rumah jualan bakso, toh walaupun kamu belajar juga akan tetap jadi penjual bakso.”

Pernyataan tersebut sangat menyayat hati Yassaroh dan seketika itu juga ia menangis tersedu-sedu. Namun hal itu tidak menyurutkan semangatnya, justru membuatnya bersemangat dan bangkit.

Menjadi Pakar Beasiswa

Sejak masa sekolah di SMP dan SMA Yassaroh terpilih menjadi siswa teladan tingkat Kota Parepare, Sulawesi Selatan. Pendidikan Strata 1-nya di jurusan Kimia Universitas Negeri Makassar ditempuh dengan bantuan beasiswa PPA untuk mahasiswa berprestasi dan diselesaikan hanya dalam waktu 3 tahun 5 bulan dengan IPK 3.92. Yassaroh meneruskan dengan Beasiswa Pendidikan Pascasarjana (BPPDN) Calon Dosen dari Dikti selama studi S2 di Jurusan Kimia (Program studi Kimia Fisik) di Institut Teknologi Bandung (ITB).

Kalau dulu banyak yang memandang sebelah mata pada keluarga Yassaroh, saat ini justru semua yang mencemooh berbalik menghargai mereka dan bertanya bagaimana caranya menyekolahkan putra-putri di tengah himpitan ekonomi yang sulit. Pertanyaan yang dijawab dengan senyum oleh Ayahanda sambil berkata

 “Kuncinya adalah makanan halal.”

Semangat untuk Berbagi

Yassaroh sadar bahwa keterbatasannya bukan alasan untuk tidak berbagi. Hari-hari Yassaroh diwarnai dengan berbagai aksi sosial dan pendidikan. Ia rajin mengumpulkan anak-anak dari kalangan marginal dan memberikan pendidikan gratis setiap dua kali seminggu dengan beragam aktivitas seperti pengajaran baca tulis, pengayaan materi sekolah dan persiapan menghadapi ujian sekolah. Gadis ini juga aktif mengajar di Sekolah Bermain Balon Hijau (SBBH), sekolah non-profit yang dirintis oleh beberapa mahasiswa ITB pecinta anak dan peduli pendidikan dini (PAUD).

Tips dan Trik Beasiswa LPDP

Saat ditanya mengenai tips dan trik lulus beasiswa LPDP, Yassaroh menyarankan untuk menjadi diri sendiri dan menunjukkan bahwa kita punya semangat tinggi untuk terus belajar meskipun banyak rintangan menghadang.  Yakinkan interviewer bahwa kita memang layak mendapatkan beasiswa dengan menjelaskan kontribusi nyata yang telah, sedang dan akan kita berikan untuk Indonesia.

Yassaroh masih ingat saat wawancara di tahapan test substansi, ia sempat meneteskan air mata saat ditanya mengenai kehidupan keluarga dan perjuangan untuk bisa sekolah. Saat itu ia juga melihat mata interviewer pun ikut berkaca-kaca mendengar pengalamannya.

Penanggung Jawab Teater Gempita Bianglala Khatulistiwa

Yassaroh terkejut namun merasa bangga saat dirinya mendapatkan amanah menjadi PIC teater dalam acara Closing PK-53: Gempita Bianglala Khatulistiwa. Walaupun mengaku dirinya pemalu namun Yass berani mengambil kesempatan tersebut dengan harapan dapat mengambil pengalaman dan pelajaran. Terbukti bahwa kesediannya menerima tanggung jawab tersebut terbayar lunas dengan suksesnya pertunjukan teater di Closing PK-53 tersebut. Belum lagi kesempatan mengenal sosok Om Rudolf Puspa dan Teater Kelilingnya.

Jangan Pernah Menyerah

Yassaroh ingin menyampaikan pesan bahwa semua orang berhak untuk kuliah dan sukses. Walaupun tantangan yang dilewati lebih berat dibanding orang lain yang terfasilitasi dengan baik, ia yakin bahwa kemauan dibarengi dengan usaha yang kuat akan diberikan jalan yang baik.

Apabila ditanya mengenai arti sukses, Yass akan menjawab bahwa sukses adalah bagaimana kita dapat terus belajar, menggali ilmu pengetahuan, meningkatkan kualitas diri sekaligus menyebarluaskan ilmu pengetahuan kepada generasi penerus bangsa.

Yassaroh – Awardee LPDP Program Doktor (PhD) Luar Negeri, tujuan University of Groningen, Belanda.


Penulis: Putri Utaminingtyas

Share this:
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail