Berpetualang Demi Sakola Abdi

Benar apa yang pernah dikatakan oleh Adi, ketua PK-53, di suatu diskusi. Saat itu Adi berkata bahwa langkah pertama yang ia lakukan saat terpilih menjadi ketua adalah menemukan bakat tiap anggota untuk kemudian diberi tugas dan tanggungjawab yang tepat sesuai dengan minat dan bakatnya.

Atina Izza sebagai ketua MI-53 menerapkan langkah yang kurang lebih sama. Dengan kejeliannya mengamati bakat teman-teman, Izza bisa mendekati dan ‘memanfaatkan’ setiap sumber daya yang tersedia di dalam PK-53. Salah satunya adalah Picasso kita: Anisa Fardan Nabila.

Anisa Fardan Nabila – Awardee LPDP Program Master (S2) Luar Negeri, tujuan Monash University, Australia.

Anisa Fardan Nabila – Awardee LPDP Program Master (S2) Luar Negeri, tujuan Monash University, Australia.

Sudah menjadi rencana tim Ganesha Merangkul untuk menambahkan sedikit sentuhan Gala di bangunan Sakola Abdi, namun sebelumnya hal ini masih menjadi wacana. Sampai pada suatu saat ide ini dibahas dengan serius dan diwujudkan pada hari Senin 9 Mei 2016.

Aldian Giovanno, Muhammad Ikhsan Akbar dan Adiguna Bahari, tiga pejantan tangguh Ganesha Bianglala menemani Izza dan Icha, panggilan akrab Anisa untuk bersama-sama menggambar logo Ganesha Merangkul di dinding sekolah. Uniknya, perjalanan kali ini ditempuh bukan dengan kendaraan pribadi, melainkan dengan memanfaatkan angkutan umum.

Apa komentar Atina Izza?

“Sumpah ini perjalanan pergi dan pulang paling bersejarah. Dari yang angkot mogok di tengah jalan trus kita jalan kaki. Abis itu nyegat pick up buat nebeng ala hitchhiker gitu. This is epic story that I can tell my daughters, sons and grandchildLOL

Ditanya lebih lanjut mengenai hal yang paling membuatnya berdebar-debar selama perjalanan, Izza menjawab panjang lebar.

“Jadi, sore tadi itu kita mau pulang kan dari Dusun 3. Dari sana diantar pakai pick up sama anak tertua host family kita sampai Kecamatan Sukamakmur dan rencananya kita lanjut angkot.
Pas udah sampai di Sukamakmur ternyata ngga ada angkot. Lebih tepatnya ada angkot tapi ga ada supirnya.

photo680071495836346460

Trus dari pada lama akhirnya aku bilang ke Aldian gimana kalau anaknya host fam ini anterin kita ke stasiun kereta terdekat dari Citereup. Setuju lah. Lalu kita berangkat melanjutkan perjalanan dengan pickup ini. Di tengah jalan tiba-tiba kita dicegat motor dengan 2 penumpang.

Ternyata yang nyegat kita ini supir angkot yg tadi parkir di Kecamatan Sukamakmur. Dia ngotot untuk kita ikut dengan dia karena biar sekalian dia balik ke Citereup. Seremnya, 2 orang ini marahin si anak host fam yang intinya nyuruh dia untuk bagi-bagi rezeki.

Karna kita udah ketakutan gitu dan pickup juga ga boleh angkut orang ya udah kita tunggu di situ sambil 2 orang ini ambil angkotnya dari tempat dia parkir di Kecamatan Sukamakmur tadi.

Setelah itu datang dengan angkot aku tawar mau gak sampe stasiun Nambo dengan harga sekian. Karna kalo ga kita pergi sama anak host fam aja. Awalnya dia setuju dengan harga sekian itu.
Eh ternyata sesampai stasiun Nambo si supir angkot malah maksa minta lebih. Karna udah capek ya udah kita kasih aja.

Terus yg bikin jleb lagi itu adalah setelah kita sampai stasiun Nambo kita ketinggalan kereta dan kereta berikutnya akan tiba pukul 7.30pm. Akhirnya kita keluar lagi dari stasiun cari angkot menuju Citereup terus lanjut ke pintu keluar tol Citereup untuk naik bus Sukabumi-Depok untuk menuju Depok. Setelah menunggu beberapa lama akhirnya bus ini datang. Kita naik sampai stasiun Depok trus lanjut naik KRL sesuai tujuan masing-masing.”

Sungguh perjalanan yang tak mudah dilupakan, bukan?  Tapi petualangan itu tidak sia-sia begitu saja. Lihat saja bukti yang terpampang nyata di foto-foto berikut ini.


Penulis: Putri Utaminingtyas

Share this:
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail