Coco dan Learn to Live

“Be the change that you wish to see in the world.” ― Mahatma Gandhi. Francesco Wowor atau yang akrab disapa dengan panggilan Coco punya dua alasan untuk bergabung menjadi sukarelawan gerakan Learn to Live: cintanya pada sang Ibu dan perhatian pada sesama. Anggota PK-53 yang sudah memasuki akhir semester pertama di Monash University ini berbagi cerita tentang kegiatannya sebelum dan setelah pindah ke Melbourne.

Cesco

Question (Q): Hai Coco, ceritain tentang Learn to Live donk. Itu sebuah komunitas atau apa? Trus fokusnya di bidang apa?
Coco (C): LearnToLive (LTL) adalah LSM Internasional yang bekerja di bidang kesehatan. Didirikan oleh Yanti Turang, wanita berdarah Manado kelahiran Melbourne pada tahun 2011. Yanti tergerak mendirikan LTL karena merasa terpanggil untuk membantu tanah leluhurnya. Beliau melihat kondisi kesehatan dan akses air bersih di banyak daerah Sulawesi Utara masih memprihatinkan.

Q: Trus yang program dan agenda LTL apa?
C: Ada agenda rutin tahunan, yaitu setiap pertengahan tahun datang ke Sulawesi Utara untuk menjalankan program selama tiga minggu. LTL membawa 30-40 kru yang terdiri dari dokter, perawat, pelajar dan relawan sosial lainnya. Mayoritas relawan ini berasal dari Amerika Serikat dan Australia.

Kami membuka klinik kesehatan di mana masyarakat sekitar diundang untuk berobat dan mendapatkan edukasi perihal kesehatan. Ada juga penyuluhan mengenai diet dan pola makan yang benar, informasi terkait pencegahan dan penanggulangan penyakit serta memfasilitasi pasien yang memerlukan perawatan lebih lanjut. Warga sekitar juga dibuatkan tempat penampungan air hujan berfiltrasi sehingga bisa langsung dipakai untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari.

Tidak hanya itu, warga juga diajarkan bagaimana cara menjalankan dan merawatnya sehingga diharapkan mereka juga punya rasa memiliki. Program terakhir yang sedang dikembangkan yaitu proses evaluasi dan rujukan bagi pasien kesehatan mental.

Learn to Live

Q: Selama ini fokus LTL lebih ke daerah mana saja?
C: Sasaran LTL saat ini adalah daerah terisolasi atau yang kesulitan akses layanan kesehatan serta air bersih. Sampai saat ini LTL telah bekerja di 3 negara yaitu Indonesia yang berfokus di Sulawesi Utara, Afrika Selatan, dan Laos.
Di Sulawesi Utara sendiri, per Juli 2016 LearnToLive telah menangani lebih dari 3.000 pasien serta berhasil membangun 3 sarana penampungan air hujan berfiltrasi. Setiap tahunnya direncanakan untuk terus menambah 1 lagi. Semua rangkaian kegiatan LearnToLive ini juga dilaksanakan dengan pengawasan dan keterlibatan dari pemerintah Provinsi Sulawesi Utara, khususnya Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Utara.

Q: Coco sendiri join sejak kapan?
C: Saya bergabung di tahun 2013 karena saya merasa ini kesempatan yang langka, bisa bekerja bersama relawan internasional, mendapat pengalaman dan pengetahuan, melatih kemampuan berbahasa Inggris dan terutama membantu orang lain yang sedang kesulitan.

Sebenarnya ada alasan lain yang lebih personal. Kebetulan kala itu kondisi kesehatan Ibu saya sedang drop akibat diabetes dan komplikasi maag akut yang mengakibatkan beliau harus masuk keluar Rumah Sakit. Selama kurun waktu kurang lebih satu tahun beliau hanya bisa terbaring di tempat tidur saja karena kondisinya yang lemah.
Bahkan masih jelas di ingatan saya, suatu waktu di malam tahun baru 2013, Ibu sempat mengalami koma dan harus dirawat di ICU selama sebulan lebih. Jadi menyadari ada kesempatan untuk bisa berkonsultasi dengan klinik internasional mengenai kondisi kesehatan Ibu saya membuat saya semakin senang untuk bisa bergabung.

Q: Ada pengalaman yang berkesan saat ikut kegiatan LTL?
C: Banyak! Saya sering terharu melihat kondisi daerah yang dikunjungi, apalagi saat mendengar kisah masyarakat sekitar tentang akses layanan kesehatan dan air bersih mereka. Pernah suatu saat ada pasien yang sedang sharing tentang anaknya yang mengalami malnutrisi dan kemudian tahu ia bermarga sama dengan saya. Di saat yang bersamaan saya teringat bahwa semalam tidak menghabiskan makan malam sehingga menyia-nyiakan makanan, itu membuat saya merasa bersalah.

Learn to Live

Q: Coco masih aktif sampai sebelum masa keberangkatan ke Melbourne ya?
C: Iya, saya sangat bersyukur masih bisa tetap aktif di sini. Saya senang dengan kekeluargaan yang erat dan sikap yang hangat pada siapapun. Hidup bersama individu dengan visi dan misi yang sama selama kurang lebih sebulan lambat laun akan terasa jalinan emosional yang erat.

Q: Setelah sampai di Melbourne, Coco masih sempat berpartisipasi di LTL? Kalau iya, dalam bentuk apa?
C: Masih donk. Kebetulan awal tahun depan akan pulang karena alasan keluarga dan juga untuk scouting daerah-daerah baru untuk sasaran kerja lapangan LearnToLive 2017 dan seterusnya. Tahun ini rencananya akan ada fundraising di New Orleans pada tanggal 19 November dan sedang diupayakan di Melbourne juga sekitar bulan Desember.

Q: Kalau boleh tahu, kenapa pilih kuliah di Melbourne? Ada alasan khusus nggak?
C: Salah satu alasan mengapa saya pilih jurusan International Development ini ya karena keterlibatan di LTL. Mayoritas teman-teman LTL berdomisili di Melbourne jadi saya pilih kota ini karena sempat khawatir kesulitan beradaptasi atau mengalami culture shock. Eeeh ternyata di Melbourne banyak sekali orang Indonesia, hahahaha.

Untuk informasi lebih lanjut, silakan klik website dan Facebook page Learn To Live di bawah ini

Website: LearnToLiveGlobal.org
FB page: LearnToLive


Penulis: Putri Utaminingtyas

Share this:
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail