Dokter Kece Ganesha Bianglala

Acara Peresmian Sakola Abdi hari Minggu, 29 Mei lalu tak akan sama tanpa kehadiran dokter-dokter kece Ganesha Bianglala. Saat itu kebetulan ada 3 dokter yang kebetulan memiliki kesempatan untuk hadir berpartisipasi, yaitu Sabrina Erriyanti, Defitra Nanda dan Irene Trisbiantara. Yuk kenalan dengan ketiga dokter spesial ini.

Dokter Kece Ganesha Bianglala, Irene Trisbiantara (kiri), Sabrina Erriyanti (tengah), dan Defitra Nanda (kanan)

Total pasien yang berjumlah 280 orang membuat para dokter cukup sibuk sampai-sampai terlambat makan siang. Tapi ketiganya menyatakan bahwa memeriksa sekian banyak pasien dalam waktu singkat merupakan hal biasa bagi mereka.

Bahasa Tubuh, Curhat Pasien dan Digemari Nenek-nenek

Dokter Sabrina mengaku bahwa salah satu kendala yang ia hadapi adalah masalah bahasa. Dirinya yang tidak paham bahasa Sunda sama sekali harus berhadapan dengan warga yang justru kesulitan berbahasa Indonesia. Beberapa pasien awal Sabrina terpaksa ditangani dengan menggunakan bahasa tubuh sampai pada akhirnya salah satu warga desa bersedia untuk menjadi penerjemah.

Sabrina Erriyanti – Awardee LPDP Program Spesialis (Kardiologi dan Kedokteran Vaskular), tujuan Universitas Indonesia, Indonesia.

Dokter Irene mengatakan bahwa sesi cek kesehatan merupakan sesi yang campur aduk. Tak hanya butuh konsentrasi dan stamina tinggi, dirinya pun sempat ikut terbawa sedih saat beberapa pasiennya curhat. Di tengah memeriksa pasien, Irene sempat memperhatikan seorang Ibu yang menanti giliran khusus di meja antriannya. Belakangan diketahui ternyata sang Ibu memang sengaja ingin diperiksa olehnya sebagai dokter perempuan.

Saat memeriksa Ibu tersebut di ruang tertutup, ditemukan sebuah benjolan yang memang sudah diketahui oleh Ibu itu sendiri saat diperiksa oleh ‘dokter keliling’. Konon benjolan tersebut dianalisa sebagai benjolan kelenjar tymus, padahal lokasi benjolan ada di payudara. Hasil ‘analisa’ inilah yang membuat Irene ragu akan kapasitas sang dokter keliling. Pasien juga sempat sedikit curhat tentang pengalaman ibu mertuanya. Katanya ibu mertua juga mengalami kasus yang sama tapi tidak tertolong walaupun sudah operasi.

Irene Trisbiantara – Awardee LPDP Program Master (Manajemen Administrasi Rumah Sakit), tujuan Universitas Gadjah Mada, Indonesia.

Ibu itu mengaku bahwa dirinya terlalu takut untuk memeriksakan diri ke dokter, mengingat keadaan sang ibu mertua. Dengan lembut Irene memberi semangat untuk membesarkan hati Ibu tersebut. Irene menyarankan bahwa benjolan itu harus ditangani dengan benar, tanpa menyebutkan apakah statusnya jinak atau ganas karena khawatir makin membuat sang Ibu panik. Ia juga mengingatkan bahwa anak-anaknya masih kecil dan membutuhkan ibu yang sehat untuk membimbing.

Irene juga menyampaikan bahwa pengalaman sang kerabat bisa terjadi karena banyak faktor, salah satunya adalah terlambat berobat ke Rumah Sakit dan penanganan yang kurang tepat oleh ‘dokter keliling’ di kampung.

Dari sekian banyak pasien dan 6 orang dokter (3 dari Ganesha Bianglala dan sisanya dari BPZIS Mandiri), ternyata ada satu dokter yang menjadi favorit para pasien. Siapa lagi kalau bukan dokter Defitra. Sosoknya ternyata mampu memikat peserta cek kesehatan yang mayoritas berusia lanjut itu.

Defitra Nanda Sasmita – Awardee LPDP Program Spesialis (Anestesiologi dan Intensive Care), tujuan Universitas Indonesia, Indonesia.

Salah satu pasien nenek-nenek bahkan sempat mengaku berumur 17 tahun di kartu statusnya. Saat Defitra mengkonfirmasi umurnya, sang nenek dengan lugu menjawab “25 juga boleh lah, pak Dokter.” Kontan jawaban ini mengundang senyum dan godaan dari rekan-rekan sesama dokter.

Ditanya mengenai pendapatnya setelah terlibat dalam cek kesehatan selama Peresmian Sakola Abdi, Irene menyampaikan keprihatinannya bahwa di lokasi yang sebenarnya tidak jauh dari Jakarta ternyata masih ditemukan situasi demikian. Banyak oknum tak bertanggung-jawab yang terlanjur dipercaya oleh penduduk untuk konsultasi masalah kesehatan, walaupun sebenarnya mereka tidak berkompeten. Diagnosa dan obat yang diberikan seringkali tidak benar dan malah bisa jadi membahayakan kesehatan pasien. Namun juga tidak mudah untuk mengubah kondisi dan persepsi masyarakat, apalagi dengan kondisi infrastruktur desa yang kurang memadai, pungkas Irene menutup pembicaraan.


Penulis: Putri Utaminingtyas

 

Share this:
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail