Gapura dan Tempat Sampah Wujud Cinta Pada Sangiang

Tergerak oleh passion-nya yang besar terhadap pariwisata Indonesia, Risya Nurfitriani memutuskan untuk terjun dalam langkah nyata menjaga dan merawat keindahan alam di Pulau Sangiang dengan menjadi founder Bangun Pulauku. Gimana cerita lengkapnya, simak yuk!

photo654750675056568364

Q:  Ceritain tentang Bangun Pulauku donk. Itu sebuah komunitas atau CSR project sebuah perusahaan?

Jadi sebenarnya Bangun Pulauku adalah sebuah organisasi yang bergerak untuk mengembangkan potensi daerah melalui inisiatif-inisiatif sederhana yang melibatkan penduduk setempat.  Fokusnya saat ini lebih ke pengembangan pariwisata lokal dengan memberdayakan penduduk lokal dan komunitas di sekitarnya. Organisasi ini pun melibatkan peran komunitas muda agar dapat menciptakan pengaruh yang lebih besar kepada penduduk lokal pulau tersebut.

Q:  Saat ini kamu bekerja bersama siapa aja?

Kebetulan saya sebagai founder dibantu oleh Sandy Izabal Maula sebagai cofounder dan juga Robby Hardyansyah dan Erwin Wijaya.

Q: Dirintis sejak kapan? Apa alasannya kok kamu akhirnya memutuskan bergerak dengan Bangun Pulauku?

Baru saja dirintis di bulan Desember 2015.  Awalnya hanya ingin membuat suatu kegiatan wisata yang bermanfaat yaitu dengan mengkombinasikan antara wisata dan kegiatan sosial. Berdasarkan pengalaman saya saat traveling, tidak semua traveler peka dengan kondisi penduduk lokal atau lingkungan di area pariwisata. Padahal kita yang lebih beruntung seharusnya bisa lebih banyak berbagi kepada mereka, tidak dalam bentuk materi tetapi bisa dalam bentuk pikiran atau ide agar mereka bisa lebih terbuka wawasannya.

photo654750675056568367

Menurut saya dan dengan beberapa saran dari senior, kegiatan yang mengkombinasikan antara wisata dan kegiatan sosial ini akan lebih baik jika dinaungi oleh sebuah nama, jadi nantinya kegiatan seperti ini bisa lebih banyak dilakukan.

Q: Kenapa Sangiang? Bagaimana proses terpilihnya pulau itu menjadi sasaran Bangun Pulauku?

Bulan November tahun lalu saya pergi ke Pulau Sangiang dan melihat daerah ini memiliki potensi wisata yang luar biasa. Saking indahnya saya sampai mengibaratkan pulau ini sebagai Bali di ujung Jawa.  Sayangnya Sangiang tidak terawat, baik dari aspek lingkungan maupun sisi marketingnya. Pulau ini punya potensi tinggi lho, tapi sayangnya tidak ada promosi yang memadai. Saya yakin pulau ini akan menjadi pulau favorit setelah Kepulauan Seribu.

Q: Apa yang kamu lakukan untuk Sangiang?

Kami punya program Bangun Pulauku – Gapura dan Tempat Sampah untuk Sangiang

Q: Mengapa gapura?

Sangiang menyimpan sejuta keindahan, namun tidak tergambar dari Gapura yang dimilikinya.  Oleh karena itu pembuatan Gapura itu setidaknya mampu merepresentasikan keindahan.  Gapura pun dapat dijadikan sebagai area branding untuk Pulau Sangiang. Oleh karena itu pembuatan gapura bertujuan untuk meningkatkan awareness orang-orang terhadap keberadaan Pulau ini. Saat ini Bangun Pulauku, membantu dari sisi pembuatan plang Gapuranya saja, karena pada saat itu masyarakat sudah membuat kerangka gapuranya.

Q: Mengapa tempat sampah?

Program Bangun Pulauku – Gapura dan Tempat Sampah untuk Sangiang ini adalah kegiatan yang spesifik untuk memperbaiki kondisi Pulau Sangiang saat ini.  Kalau dilihat dari keindahannya, tak perlu diragukan, Sangiang sangat memukau. Sayang terlalu banyak sampah yang bertebaran di berbagai sisi pulau. Setelah diteliti lebih lanjut ternyata salah satu penyebabnya adalah tidak adanya tempat sampah yang tersedia. Oleh karena itu kami berupaya untuk menyediakan tempat sampah yang lebih proper agar kesadaran masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya menjadi lebih meningkat.

photo654750675056568366

Q: Siapa aja sih yang terlibat?

Program Bangun Pulauku – Gapura dan Tempat Sampah untuk Sangiang ini berkolaborasi dengan komunitas lingkungan, yaitu Hilo Green Community, jadi pada saat menjalankan program tersebut teman-teman dari HiLo lah yang ikut serta mengingat mereka memiliki pengalaman yang lebih banyak untuk urusan manajemen sampah dan lingkungan.

Sebenarnya saya berniat untuk berkolaborasi dengan Trip Organizer dan Miss Scuba Indonesia, namun berhubung di saat yang bersamaan juga saya sedang mengurusi PK LPDP jadi tidak sempat untuk berkordinasi dengan kedua kelompok tersebut.

Q: Apa rencana ke depan?

Saya berencana untuk melibatkan beberapa komunitas karena saya yakin bahwa saat ini waktunya untuk berkolaborasi guna memperbesar impact dari setiap program dijalankan.  Doakan saja, kegiatan selanjutnya bisa lebih banyak melibatkan banyak orang yang kompeten di program yang nantinya akan dijalankan.

Q: Ada akun social media yang bisa kita follow?

Ada donk.  Follow kami di instagram. Akun resmi: @bangunpulauku  dan instagram saya: @risyafitriani

Q: Setelah Sangiang, ada rencana menyasar ke mana lagi? Trus rencananya kapan?

Rencana selanjutnya adalah Ternate yang akan dijalankan di awal Maret tahun ini.  Sasarannya adalah komunitas setempat dan penduduk lokal di wilayah pesisir.  Komunitas yang akan diajak bekerjasama adalah komunitas freedive @enjoyternate dan trip organizer @tripinonesiatimur. Kegiatan untuk Ternate ini berbeda dengan Pulau Sangiang, di sini kami ingin membuat kegiatan edukasi berkaitan dengan sampah dan konservasi serta beach clean up bersama para freedivers.

Q: Kalau saya mau ikut donasi bisa ke mana?

Boleh sekali, sementara bisa langsung menghubungi saya. Rencananya saya akan membuat campaign-nya di kitabisa.com seperti pada saat saya membuat kegiatan untuk Sangiang.

Q: Kamu khan rencananya mau lanjut sekolah nih, trus nanti yang nerusin siapa? Trus setelah balik dari sekolah mau tetap lanjutin aktivitas ini?

Sejauh ini saya sudah merekrut 3 teman dari HiLo Green Community Tangerang sebagai tim inti Bangun Pulauku untuk melanjutkan rangkaian kegiatan selanjutnya.  Setelah selesai sekolah, pastinya saya akan tetap melanjutkan dengan visi, misi, dan program yang jauh lebih matang dan relevan.  Doakan saja yaa.

Highlight Program Bangun Pulauku dapat dilihat di sini:

Risya Nurfitriani – Awardee LPDP Program Master Luar Negeri, tujuan University of Leeds.


Penulis: Putri Utaminingtyas

Share this:
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail