Is a PhD The Right Choice For You?

phd

“It’s like a hell” kata Professor saya ketika seorang teman menyatakan minatnya untuk lanjut PhD.

“Seriusan, kamu mau lanjut PhD? PhD itu cara tercepat untuk menjadi pikun loh” Kata seorang kandidat PhD, ketika saya bertanya apa saja yang harus dipersiapkan untuk lanjut PhD. Konon, mahasiswa Phd kalau diajak ngobrol “tidak nyambung” karena yang di kepalanya hanya ada topik risetnya. Pantas bila ada yang bilang kalau PhD = Permanent Head Damage.

Sejenak, saya teringat percakapan di atas, ketika teman – teman sekelompok di PK membahas mengenai lanjut PhD. Dan sekarang, teringat lagi ketika sudah benar – benar mulai PhD sekitar 2 minggu. Mulai dikejar jadwal presentasi, diminta jadi reader dan memberi masukan thesis mahasiswa S2, memikirkan rencana publikasi, conference, dll. Mulai berpikir juga, “sebenarnya mau cari apa, dengan lanjut PhD itu?”

Memutuskan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S3 adalah keputusan yang besar. Bahkan sebuah penelitian mengatakan bahwa kemungkinan kegagalan menyelesaikan PhD sekitar 40%. Okay, sebetulnya PhD itu ngapain sih? Banyak pendapat mengenai hal ini. Ada yang bilang PhD itu untuk memproduksi “pengetahuan baru”. Prof. Vedi R Hadiz, seperti dikutip Iqbal Aji Daryono dalam bukunya mengatakan bahwa “thesis PhD itu bukan sekedar mendeskripsikan suatu masalah, melainkan menggugat asumsi–asumsi yang selama ini dipercayai public. Semakin kuat data dan argumen untuk menggugat asumsi yang ada, maka makin berhasil lah thesis PhD tersebut”. Seorang sobat Bianglala, Naufan Raharya memberikan pesan “Anda bukan jadi semakin jago dan pintar karena bergelar PhD. Anda justru jadi semakin bodoh karena hanya tahu ilmu yang kecil sekali dalam riset”. Ini adalah statement yang tepat, ada ilustrasi untuk menjelaskan statement tersebut.

ilust

Untuk dapat “memproduksi pengetahuan baru”, sudah pasti kita harus tahu dulu sudah sampai sejauh mana pengetahuan mengenai topik riset kita. Tentunya ini membutuhkan kerelaan untuk membaca semua literatur terkait. Selain kerelaan membaca, harus punya passion juga untuk menulis. Repotnya, bagi yang hobi nulis pun kadang sukar sekali menuangkan pemikiran kita ke dalam suatu tulisan. Apalagi kita harus bisa mempertanggungjawabkan setiap kalimat yang dituliskan.

Adalah hal yang mengembirakan ketika mengetahui bahwa LPDP memberikan kesempatan bagi awardee-nya untuk melanjutkan pendidikan hingga jenjang S3. Dan sependek yang saya tahu, cukup banyak juga yang ingin lanjut S3. Namun demikian, sebelum secara sukarela memutuskan untuk masuk ke dalam “neraka” seperti yang Professor saya bilang, perlu juga untuk bertanya pada diri sendiri, sebetulnya motivasi apa yang mendasari minat untuk lanjut S3 itu?

Berikut ada motivasi–motivasi yang tidak tepat untuk melanjutkan S3, misalnya:

  • Karena ingin tinggal lebih lama di luar negeri. Tidak bisa dipungkiri bahwa pengalaman tinggal di luar negeri (apalagi gratisan), akan menjadi pengalaman yang tidak terlupakan bagi kita. Tapi kalau PhD, hanya supaya dapat ekstra tinggal di luar negeri 3 hingga 4 tahun, maka tidak akan sebanding dengan “berat”nya usaha yang harus dikeluarkan untuk menyelesaikan PhD.
  • Karena orang lain, faktor karena orang lain, misalnya ikut–ikutan teman yang lanjut PhD, atau disuruh orang tua. Bisa pula karena punya gebetan di negeri tersebut, sehingga cari–cari alasan buat tinggal lebih lama, atau sebaliknya, habis “bubaran” sehingga bersumpah ga mau ketemu mantannya, dan pilih kabur ke luar negeri. “Cinta” dan “Benci” merupakan perasaan yang kuat untuk memotivasi manusia untuk berbuat sesuatu. Tapi bukan alasan yang baik untuk lanjut PhD. Coba, seandainya di tengah study, tiba – tiba putus gitu… Maka yang tersisa adalah dirimu dan risetmu (yang “like a hell” itu).
  • Karena tidak berani / malas masuk dunia kerja, Ini juga alasan yang tidak tepat. Kecuali memang niatnya dari awal mau jadi dosen, akademisi, peneliti. Untuk profesi tertentu memang betul, sebaiknya lanjut S3. Sebutlah, jadi lanjut S3, lalu? Setelah lulus harus dipikirkan juga mau apa… Sedikit pengalaman dari teman bergelar Doktor, ketika melamar kerja (bukan di universitas atau lab riset ya…), terpaksa ia hanya mencantumkan gelar Masternya. Karena sebagian perusahaan di Indonesia menganggap bahwa S3 hanya cocok untuk dosen.
  • Demi gengsi, banyak yang percaya bahwa gelar PhD adalah simbol kepandaian dan intelektualitas. Namun, hendaknya jangan terjebak dengan hal ini. Seorang bergelar PhD diharapkan berdiri di ujung paling depan dalam pengembangan bidang ilmunya. Nah, pertanyaannya, mau nggak terus mengembangkan ilmu yang ditekuninya?

Jadi, masih mau lanjut PhD?

Ayo lanjut belajar hingga PhD bilamana anda punya rasa ingin tahu yang besar, atau merasa tertantang untuk menemukan hal–hal baru, menikmati kegiatan meneliti sesuatu, atau anda benar–benar ingin memaksimalkan potensi diri anda, yang mana tidak menutup kemungkinan akan mengantarkan anda pada pekerjaan (dan penghasilan) yang lebih baik.

Bisa pula, anda melihat suatu permasalahan yang bisa mempengaruhi kehidupan orang banyak. Dan anda punya keinginan yang kuat untuk memberikan sumbangan pemikiran, sesuatu yang mungkin berasal dari pengalaman hidup anda, dan anda terbeban untuk mencari solusi guna mengatasi masalah tersebut. Ini juga bisa menjadi motivasi belajar hingga S3.

Hal yang terakhir, pastikan, topik yang akan diambil adalah hal yang betul–betul menarik bagi anda. Karena anda akan membenamkan diri ke dalam topik itu 3 hingga 4 tahun mendatang. Sedangkan mengerjakan paper atau proyek di kantor saja, bila tidak selesai–selesai, kita akan merasa bosan. Apalagi ini hingga hitungan tahun.

kez

Kezia Eka Sari Dewi, PhD Candidate in Architecture and Urbanism di KU Leuven, Belgia.

Sumber:

Daryono, Iqbal Aji, “Out of The Truck Box”, Yogyakarta, Giga Pustaka, 2015
http://www.theguardian.com/careers/phd-right-career-option
http://ganesha-bianglala.org/pendidikan-dari-perspektif-naufan
http://www.phdcomics.com/comics/archive/phd030110s.gif
http://www.slideshare.net/MIslamBarbaruah/imperative-for-innovative-entrepreneurship


Penulis: Kezia Eka Sari Dewi

 

Share this:
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail