Karena PK, Pertemuan Kita Istimewa

Jogja, 27 Desember 2015, Jalan Kaliurang KM 5,5. Bahkan jam janjian dan jam kumpulnya pun masih terekam jelas dalam ingatan. Ini catatan pertama tentang PK-53 Regional Jogja yang selanjutnya masih akan ditambah dengan catatan-catatan lainnya. Well, letโ€™s see then…ย ๐Ÿ˜‰

j1

Kesan pertama tentang PK-53 Regional Jogja adalah: luar biasa! Bagaimana tidak, perjalanan menggunakan kereta, bus, puluhan kilometer saja rela ditempuh untuk sekedar bertatap secara nyata. Demi sebuah percakapan dengan berbagai ekspresi yang bukan hanya sekedar emoticon atau stiker pada layar yang luasnyapun tak seberapa.

Masih ingat juga, apa saja yang kami bahas dalam pertemuan pertama. Salah satunya: semoga semua tugas-tugas ini segera berakhir dan kami bisa sekolah lagi dengan tenang. “Ah, kawan, betapa sia-sianya percakapan tentang itu kita lakukan.”

Satu hal tentang para awardee hari itu adalah: masih saja sekadar beberapa orang asing yang sengaja dipertemukan oleh Tuhan.

Jogja, 8 Januari 2016, Gedung Graha Sabha Pramana, Universitas Gadjah Mada, sore hari yang sedang hujan. Hari ini sih, agendanya mau joged bareng. Flashmob-an, bergaya ala dancer amatiran. Kali ini, masih saja catatan hari pertama belum terbantahkan. Janjian jam berapa, kumpul jam berapa, sudah bukan hal yang mengherankan. Yaaa, pada akhirnya sih bisa kumpul dan berhasil menggerakkan badan mengikuti tutorial, meskipun masih jauh dari kata kompak. Dan lagi, fokus yang terpecah belah gegara lapak sebelah lagi latihan koreo ala boyband Korea. “Kita mah apaaa atuh, dibanding mereka?”ย ๐Ÿ™„

Catatan tambahan untuk hari ini adalah bahwa kami sudah mulai senada dalam gerakan flashmob yang entah pendapat orang lain bagaimana. Peduli amat.ย ๐Ÿ˜› Dan, ditutup dengan dinner alakadarnya di warung tenda, juga foto bareng tukang bakso yang dengan polosnya justru foto selfie pake kamera belakang. ๐Ÿ˜†

j2

Dua hari kemudian, masih di tempat yang sama, masih agenda yang sama. Ini pertemuan ketiga dan harus diakui bahwa โ€˜kita sudah benar-benar satu keluargaโ€™. Ya, kebersamaan kami sudah berharga lebih dari sekedar penyelesaian tugas, dan justru menjadi kebutuhan kami untuk saling menyapa sesering yang kami bisa.

Terlalu banyak detail yang tak bisa diceritakan secara singkat, namun pastinya tetap selalu diingat. Yang tertulis di sini adalah sebuah perjalanan yang tak mungkin dituliskan setiap langkah ataupun setiap pijakannya.

Dan inilah klimaks dari episode kami. Ketika kami berada dalam satu tempat selama hampir sepekan, selama PK, namun sempat bertegur sapapun tidak. Menyedihkan, bukan? Mau disangkal sekuat apapun, kelak kesibukan memang akan benar-benar memisahkan kami secara perlahan. Ah, lagi-lagi kebawa perasaan. Memang kejahatan terbesar PK adalah mempertemukan banyak orang untuk kemudian dipisahkan.ย ๐Ÿ˜ฅ

j3

Setelah klimaks, tentu saja akan ada akhir, bukan? Setidaknya kami masih punya dua pilihan meskipun akhirnya sama saja โ€˜akhirโ€™. Akhir yang indah, atau akhir yang tidak indah, kalau tidak mau disebut menyedihkan.

Kulonprogo, jalan berliku menanjak dan semangat kami yang luar biasa, adalah bagian cerita kami selanjutnya. Perjalanan menuju Kecamatan Kokap, menghadiri Grand Launching Bale Sinau, program Menyapa Indonesia PK-50. Masih sama seperti sebelum-sebelumnya, janjian untuk agenda kali ini pun tak ada bedanya. Selalu dua jam lebih lambat dari yang direncanakan. Penuh drama sebelum akhirnya berkumpul dan tertawa bersama menertawakan kekacauan yang telah kami timbulkan.

j4

Perjalanan yang luar biasa. Ditutup senja jingga yang katanya jauh di seberang, yang katanya lagi, segaris horizontal dengan benua Australia. Alah, macem Australia sepelemparan batu saja. “Kita memang selalu terlalu mengada-ada. Apapun, asal kita bersama.” ๐Ÿ˜€ ๐Ÿ˜€ ๐Ÿ˜€

j5

Satu hal tentang kami setelah sekian lama;

“Inilah skenario Tuhan sejak awal mempertemukan kita.” ๐Ÿ˜‰ย ๐Ÿ˜ณ ๐Ÿ˜ณ ๐Ÿ˜ณ


Penulis: Retno Purwaningsih

Share this:
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail