Kejar Beasiswa dari USAID sampai LPDP

Mengaku awalnya tak mahir berbahasa Inggris, Esty takut bermimpi untuk sekolah ke luar negeri. Novel Laskar Pelangi-lah yang membakar semangatnya untuk berani berjuang hingga sampai mencicipi tinggal di negara Paman Sam. Hasilnya, Esty ketagihan dan berusaha lebih keras lagi untuk menuntut ilmu lebih tinggi.

photo734404627427076514 - Copy

 

Mahasiswa Biasa yang Tak Banyak Bergaul

Esty menyelesaikan pendidikan SMA-nya di Sekolah Menengah Analis Kesehatan yang membekalinya dengan keahlian sebagai analis lab. Setelah itu ia melanjutkan kuliah di  jurusan Teknik Kimia dari Institut Sains dan Teknologi Akprind Jogjakarta. Dua tahun pertama kuliahnya dihabiskan dengan kuliah sambil bekerja sehingga tak terlalu banyak waktu tersisa untuk bergaul dengan rekan sebaya. Pun di tahun selanjutnya ia juga bekerja sebagai asisten laboratorium kimia organik di kampus sehingga praktis seluruh masa kuliahnya habis untuk pekerjaan tanpa bersenang-senang.

Lulus S1, Esty berkarier sebagai Quality Control (QC) staff di perusahaan pengolahan air minum lokal di kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat sebelum pindah ke posisi yang sama di PT. Indofood Sukses Makmur, Tbk. Pontianak. Panggilan hatinya memantapkan Esty untuk memutuskan mengambil program Akta IV untuk sertifikat mengajar dan akhirnya mendapat pekerjaan tetap sebagai sebagai guru Kimia di SMKN 7 Pontianak sejak 2006.

Tak Berani Bermimpi

Mimpi untuk kuliah di luar negeri sudah dimiliki sejak lama tetapi Esty sadar bahwa kemampuan bahasa Inggris dirinya sangat kurang dan ini menjadi hambatan terbesar. Hingga pada akhirnya suatu saat ia membaca tuntas Laskar Pelangi dan keinginan terpendamnya tersebut muncul kembali ke permukaan.

Berbekal semangat  besar Esty memutuskan untuk mengambil kursus conversation, pelatihan TOEFL dan juga membantu mengajar kelas bahasa Inggris kelas X di sekolah yang waktu itu kekurangan guru. Kegiatan itu sangat membantu mengasah kemampuan bahasa Inggris. Perjalanan sebagai scholarship hunter juga diwarnai dengan seringnya mengikuti workshop tentang studi ke luar negeri.

Tahun 2011 ia mencoba memberanikan diri mengirim aplikasi ke PRESTASI (Program to Extend Scholarship and Training to Achieve Sustainable Impact) dari USAID. Kalau ditanya mengapa memilih beasiswa itu? Karena PRESTASI adalah satu-satunya beasiswa yang mensyaratkan skor TOEFL 450 dan GPA 2.75 sementara beasiswa lain mematok passing grade minimal 500 atau bahkan 550.

Esty sangat bersyukur karena berhasil lulus di kali pertama apply beasiswa. PRESTASI menyediakan beasiswa untuk seluruh WNI yang telah memiliki pengalaman kerja 2 tahun di bidang pilihan. Program/bidang yang ditawarkan sangat beragam yaitu Education, Health, Environment, Economic Growth, dan Democracy and Governance. Syarat TOEFL minimal 450 untuk memberikan kesempatan yang seluas-luasnya untuk masyarakat Indonesia, sehingga mereka dengan bahasa Inggris yang pas-pasan tapi memiliki potensi leadership yang baik dapat mendaftar.

Pengalaman Seleksi USAID

Tahapan pendaftaran yang pertama adalah mengirim semua hard copy dokumen yang disyaratkan seperti study objective, ijazah, sertifikat dan lain-lain ke IIEF, kontraktor yang menyelenggarakan seleksi beasiswa.  Apabila lulus seleksi administrasi maka peserta wajib mengikuti interview oleh praktisi dan perwakilan dari USAID (3 interviewer).

Pengalaman paling berkesan bagi Esty saat itu adalah proses interview di mana ternyata salah satu interviewer yang mewawancarainya tertarik pada bidang  science education sehingga ia ditanya tentang cara memanfaatkan keterbatasan fasilitas dan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar. Diskusi yang berjalan jadi sangat menarik walaupun dengan bahasa Inggris minim. Esty mengaku ia dibantu oleh interviewer lain saat sedikit kesulitan mengungkapkan idenya dalam bahasa Inggris.

Walaupun proses interview berlangsung dengan cukup baik, Esty merasa kurang percaya diri dengan hasilnya, mengingat ia dibantu saat proses menjawab pertanyaan. Sehingga begitu hasil seleksi diumumkan dan ternyata nama Esty Haryani tercantum, ia sungguh tak percaya dan sangat bersyukur. Esty merasa kekuatan doa dan restu orang tua-lah yang sangat berperan di sini sehingga ia otomatis langsung menghubungi sang Ibunda.

Persiapan Keberangkatan ala USAID

Berbeda dengan LPDP, Persiapan Keberangkatan yang ditawarkan berupa program Pre-Academic Training (PAT) selama 1 bulan, 4 bulan, dan maksimal 6 bulan tergantung skor TOEFL pada waktu mendaftar dan placement test. Selama PAT penerima beasiswa juga dibekali dengan pelatihan statistic, Pre Departure Orientation (PDO), dan leadership training.

Untuk proses pendaftaran ke universitas tujuan, penerima beasiswa dibantu dalam proses pengiriman aplikasi ke universitas tujuan oleh Institute of International Education (IIE) yang berpusat di New York. IIE juga nantinya yang bertanggungjawab melakukan monitoring terhadap penerima beasiswa selama study di USA. Proses monitoring berjalan dengan metode diskusi via skype satu kali sebulan dan minimal 1x visit ke kampus selama studi untuk bertemu dengan penerima beasiswa, advisor, maupun international office di kampus masing-masing. Keseluruhan pendaftaran universitas, orientasi kedatangan di USA yang dilakukan di Washington DC, hingga monitoring di-arrange oleh IIE.

Berhubung proses yang dijalani cukup panjang, Esty baru mulai  terdaftar untuk perkuliahan yang dimulai pada Fall 2013. Study yang Esty pilih saat itu adalah Science Education di Western Michigan University, Kalamazoo, MI, USA.  Esty menyelesaikan program Masternya pada bulan Mei 2015. Sebelum lulus ia sengaja mengajukan permohonan lanjut ke program Doctoral di kampus yang sama. Setelah kembali ke Indonesia, Esty memang sudah berniat untuk apply beasiswa lain, yaitu LPDP. Kenapa berpindah ke lain hati? Ternyata alasannya karena beasiswa sebelumnya hanya menyediakan beasiswa program Master saja.

Promosi Soal Kalamazoo

Faktor familiaritas dengan sistem pendidikan Amerika dan challenge untuk study di USA  menjadi alasan utama Esty untuk melanjutkan pendidikan di kota yang sama. Sebagai kota kecil, Kalamazoo cukup menarik untuk ditinggali. Murahnya harga sewa apartemen, biaya hidup yang terjangkau dan juga keramahan penduduknya membuat Esty betah dan ingin kembali.

Bicara mengenai harga akomodasi, untuk mahasiswa yang tidak keberatan untuk berbagi dengan orang lain, satu apartemen dengan 4 bedrooms dan 4 bathrooms dapat disewa dengan harga sekitar $375/bulan (fully furnished apartment). Studio apartemen bisa didapat mulai dari $450/ bulan (unfurnished).  Kedua tipe tempat tinggal tersebut tanpa fasilitas listrik dan internet yang biasanya merupakan pengeluaran ekstra. Student card juga bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin, salah satunya adalah dengan naik bus gratis.

Esty mengamini bahwa dirinya pernah terkena culture shock di semester pertama. Ia mengenang bahwa saat itu merupakan masa paling berat sampai-sampai ia berharap satu minggu terdiri dari 10 hari dan sehari itu 30 jam mengingat tugas-tugas yang menghadang. Tapi semua itu teratasi di semester berikutnya setelah berhasil mempelajari ritmenya. Apabila mengalami kendala yang sama, Esty menyarankan untuk mengontak teman yang bisa diajak cerita dari hati ke hati. Ia sendiri dulu terbiasa bicara dengan kontak program officer dari IIE atau konsultan di Health Center kampusnya.

Tips dan Trik Kuliah di Amerika ala Esty

Untuk membiasakan dengan sistem pendidikan Amerika yang berbeda dari Indonesia, Esty sangat menyarankan tiap mahasiswa utuk proaktif, mandiri dan disiplin. Di awal kuliah Professor selalu memberikan silabus selama satu semester.  Silabus ini harus diperhatikan karena mencakup materi, referensi yang dipakai, tugas-tugas, dan office hour sang professor. Esty sendiri selalu menyusun schedule harian dengan target tertentu seperti membaca jurnal, buku referensi, menulis review, persiapan atau mengambil online quiz atau tugas-tugas lain.

Esty selalu menyiapkan jadwal untuk seminggu supaya lebih efektif. Ia bahkan menerapkan prinsip Everyday is weekday selama semester berjalan. Tips aman darinya sebelum liburan (i.e. spring break):  selesaikan dulu tugas-tugas, cari referensi untuk kelas di semester berikutnya jadi begitu selesai liburan seluruh bahan sudah siap dipelajari. Untuk menghemat pengeluaran, biasanya Esty memanfaatkan bursa buku bekas atau rental online, mengingat harga buku yang selangit.

Amerika yang Ramah

Tadinya Esty merasa sangat bangga dengan keramahan Indonesia yang senantiasa digaungkan di televisi. Setelah di Amerika ia menyadari bahwa dirinya masih harus banyak belajar. Bangsa Amerika jauh lebih ramah dan disiplin. Banyak sekali pengalaman yang berkesan selama berteman dengan teman-teman Amerika maupun international students yang lain.

Ia mengakui sebagai graduate student memang tidak mudah untuk bisa bergaul dengan American classmates, kecuali yang berhubungan dengan kegiatan/tugas  kelas karena pada umumnya mereka kuliah sambil bekerja. Beda dengan pergaulan sosial di luar kampus di mana keluarga Amerika luar biasa, banyak di antara mereka yang peduli pada international students. Tak hanya itu, mereka juga menghormati keyakinan Esty dan teman Indonesia yang mayoritas muslim dan harus makan makanan halal.

Kesan Mengenai LPDP

Mengikuti seleksi LPDP bagaikan sebuah déjà vu bagi Esty, karena beberapa berkas dan persyaratan yang harus dipenuhi sama. Bedanya lebih terletak ke proses seleksi di mana LPDP memiliki proses seleksi yang menarik. Tak hanya seleksi berkas dan wawancara, tapi juga ada ujian Essay on the Spot dan Leaderless Group Discussion. Bagi Esty yang terbiasa menulis paper dan tugas kuliah secara terstruktur, Essay on the Spot bukan merupakan tantangan berarti. Ia justru merasa tantangan LGD-lah yang besar karena  belajar bagaimana berdiskusi di tengah kelompok tanpa mendominasi dan menghargai pendapat orang di saat yang bersamaan.

Ditanya kesan khusus mengenai LPDP, Esty merangkum bahwa kelebihan LPDP terletak pada pilihan negara serta bidang studi yang luas. Selain itu LPDP juga menyediakan skema untuk Master dan Doktoral dengan kesempatan lulus yang besar asalkan memenuhi kriteria yang dicari.

Jadi bagi yang merasa minder dengan kemampuan bahasa Inggrisnya yang pas-pasan, bisa meniru langkah yang ditempuh Esty dengan rajin mengikuti kelas percakapan, workshop sampai ikut mengajar. Jangan pernah menyerah, kejarlah impian sampai ke negara Paman Sam seperti Esty!


Penulis: Putri Utaminingtyas

Share this:
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail