Oxford dan Mimpi Sang Lembu

“Menembus kampus top dunia seperti Oxford hanya bisa dengan 2 cara: jadi orang pintar atau orang gila. Saya pilih yang nomer 2 karena saya tahu saya tidak pintar. Masuk Oxford adalah mimpi tergila saya, tapi karena dasarnya saya orang gila, jadi ya wajarlah.”

nara

Bli Nara, alumni ITB yang berhasil diterima di Program PhD Oxford University

Ida Bagus Mandhara Brasika, akrab disapa Nara ini, memaksimalkan diri sampai batas akhirnya untuk menembus kampus kelas dunia, University of Oxford. Bocah yang bahkan tidak memenangkan olimpiade tingkat provinsi ini, terwujud mimpinya setelah 2 tahun belajar dari pengalaman dan bangkit dari kegagalan. Ditolak oleh Nottingham dan Oxford sebelumnya, tak membuat Nara gentar. Bukannya menurunkan standar target, Nara malah nekat mengambil S3 di Oxford. Strategi pun ia matangkan karena Oxford mencari orang dengan entushiasm dan visi yang kuat tak hanya pintar. “Strategi terpenting adalah mengenal diri sendiri,” ungkap pemuda asal Pulau Dewata ini. Ikuti kisahnya!

Langkah pertama saya adalah mencari profesor. Ini susah-susah gampang untuk kasus Oxford, secara terbuka menyampaikan profesor yang membuka peluang research. Susahnya, penjelasan yang digunakan memakai bahasa akademik high level. Pertama kali baca, saya shock, karena sebagai seorang meteorologist saya seperti tidak tau apa-apa tentang meteorology. Tidak habis akal, saya minta tolong dosen saya di Jepang untuk menjelaskan dalam bahasa yang lebih sederhana.

Pada tahap ini, kita perlu katalisator namanya keberuntungan, yang membuat saya berlabuh di profesor yang tepat dengan visi sama dan latar belakang yang sesuai. Seusai submit berkas, saya ada masalah lagi, tidak punya uang untuk daftar karena jumlahnya lumayan berat buat saya. Bertepatan saat PK saya menemukan unsur penting, namanya sahabat. Ya, bang Eki saat itu membantu saya meminjamkan dana untuk membayar pendaftaran. Saya lolos administrasi dan masuk sesi paling sulit, Interview. Ini membuat saya gila, bicara bahasa inggris untuk obrolan sehari-hari saja saya gagu apalagi bicara topik akademik. Sekali lagi Bang Eki dan teman-teman Ganesha Bianglala membantu saya berlatih interview.

“Kenalilah musuhmu seperti kekasihmu sendiri, maka kau akan memenangkan semua peperangan”, prinsip itu saya gunakan. Saya seorang bachelor, menghadapi sesama bachelor saja saya belum tentu menang apalagi bersaing dengan para magister terbaik di seluruh dunia. Maka saya mempelajari musuh terbesar saya, yaitu diri saya sendiri. Saya pelajari apa hal lemah saya dan bagian mana yang bisa saya jual. At last, kolaborasi Gila, Strategi, Doa, Keberuntungan dan Sahabat menghantarkan saya sampai ke pintu masuk PhD Oxford. Dan ini adalah awal bukan akhir.

Degree yang saya ambil ini D.Phil (istilah lain untuk Ph.D yang setahu saya hanya digunakan oleh Oxford) in Atmospheric Oceanic and Planetary Physics dengan jurusan Climate Physics. Pada tahun pertama aku dipersilahkan untuk mengambil beberapa course untuk menunjang researchnya. Jumlahnya sedikit karena sebagian besar waktu akan digunakan untuk research, tutor, dan presentasi. Di tahun pertama, bisa dibilang cukup krusial, kalau dianggap tidak memuaskan maka bisa saja saya dipulangkan secara paksa. Kalau bisa keluar dari “lubang jarum” tersebut, “kandang singa” pun menanti.

Di Oxford, normally S3 selesai dalam 3 tahun, jadi saya akan punya 2 tahun untuk “kejar-kejaran”. Saya tidak tertarik untuk jadi mahasiswa super jenius di kampus. Saya ingin lebih banyak menikmati kehidupannya, ingin punya jaringan seluas mungkin, tidak hanya di kampus tapi juga ke industri. Saya ingin mengambil opportunity untuk menyerap funding international dan transfer technology untuk saya bawa ke Indonesia setelah saya meraih gelar S3. Kebetulan saya lebih tertarik jadi seorang sociopreneur daripada jadi dosen.

Ulasan singkat tentang proposal disertasi saya, topik besarnya adalah “revisting atmospheric timescale”. Intinya, saya akan melakukan perhitungan ulang terhadap model iklim yang sudah ada, kemudian menggunakan model-model tersebut untuk melakukan prediksi iklim yang lebih baik, sehingga nantinya kejadian iklim tidak hanya terprediksi kapan terjadinya, tapi juga berapa kuat dan berapa lama itu akan berlangsung. Implementasinya bermacam-macam, untuk bencana seperti kekeringan, badai dan banjir, bidang pertanian untuk penentuan masa tanam, juga penentu keberhasilan penurunan emisi karbon.

Kaitannya dengan Indonesia, saya akan beri contoh. Pada tahun 2015, bisa dibilang kita tidak memiliki musim hujan, hujan hanya datang sesekali, sepanjang November-Desember cuaca cukup kering. Kekeringan parah mengakibatkan kebakaran hutan yang tidak terkendali, lebih parah dari tahun sebelumnya. Hal ini, salah satunya adalah kegagalan kemampuan model untuk memprediksi besar dan kuatnya kejadian iklim, yaitu El Nino. Jika itu diketahui, tentu pemerintah dan masyrakat bisa melakukan antisipasi. Nah, disini diperlukan model iklim yang akurat, ituah yang akan saya kembangkan.

Nara pun mengusulkan judul untuk kisahnya, “Oxford dan Mimpi Sang Lembu”. Alasannya, Oxford, biasa disingkat ox, berarti lembu. Lembu adalah hewan yang sangat penyayang dan tenang. Hewan yang tidak populer tapi memiliki nilai yang tinggi. Semoga dapat mencerminkan sifat Nara yang rendah hati dengan semangat juang tinggi dan tentunya high quality. Oya, mengakhiri kisahnya, Nara berpesan, “Kawan, saya kuliah nanti (semoga Oxford) tidak sendiri, kalian akan ikut bersama saya. Jangankan melewati lubang jarum atau masuk kandang singa, selama bersama kalian, saya akan bayar semua yang negara ini telah berikan.”

Penulis: Evelynd

Share this:
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail