Pendidikan dari Perspektif Naufan

Naufan Raharya, Wakil Ketua Ganesha Bianglala, tepat hari ini bertambah usia. Meski masih cukup muda, 24 tahun, ia akan melanjutkan studi doktoral ke University of Sydney, Australia. Aktif menjadi pengajar di Fakultas Teknik Universitas Indonesia membuka pandangannya tentang pendidikan di Indonesia. Lebih spesifik, Naufan menyoroti pendidikan di Desa Sirnajaya Kab. Bogor, lokasi berlangsungnya program Ganesha Merangkul MI-53.

photo633602131537013212

Naufan Raharya – Awardee LPDP Program Doktoral (S3) Luar Negeri, tujuan University of Sydney, Australia.

Mengikuti kegiatan Kelas Gala di Desa Sirnajaya minggu lalu adalah pengalaman pertama kali saya mengajar siswa MTs atau setingkat SMP. Sebelumnya saya hanya punya pengalaman mengajar teman sebaya dan mahasiswa S1 dan S2 sebagai asisten dosen di kampus. Saya pikir ini akan sulit karena mengajar anak-anak dan mahasiswa tentu berbeda. Saya takut dianggap membosankan dan ditinggal tidur, hehe 🙂

Saya dan Mas Erfan mendapat bagian untuk mengajar siswa kelas 7 MTs. Materinya kebetulan cukup mudah, yaitu menamai benda-benda yang ada di ruang kelas dengan Bahasa Inggris. Kemudian, kami menyuruh siswa tersebut maju ke depan untuk mengerjakannya. Saya senang karena mereka cukup bagus walaupun ada kata-kata yang keliru penulisannya, contohnya White Board (papan tulis) menjadi Whait Board. Terdapat banyak kata-kata yang tidak dapat mereka terjemahkan. Saya memiliki solusi untuk membantu mereka, yaitu dengan mengacak katanya, misalnya BROOM (sapu) menjadi B-R-O-M-O. Dengan begitu, mereka terbantu dan ingat dengan kosakata baru.

Secara umum, saya senang karena siswa-siswi MTs tersebut antusias memperhatikan saya dan Mas Erfan. Namun, saya pikir materi yang diberikan ini terlalu mudah untuk siswa SMP kelas 7. Hal ini saya simpulkan sendiri setelah saya memeriksa buku catatan seorang siswa. Sebenarnya, mereka telah sampai pada tahap membuat cerita dan percakapan dalam Bahasa Inggris. Namun, dasar mereka belum terlalu kuat. Saya coba awali dengan membuat kalimat sederhana dengan formula, S+P+O+K. Di bagian ini, mereka paham penggunaannya. Akan tetapi, saat saya memberikan soal tentang merangkai kalimat dengan kalimat acak, hanya 2 dari 14 siswa yang mampu menjawab benar lima soal. Masalah dasar mereka adalah bingung untuk membedakan mana subjek dan objek ketika kalimat diacak.

Masalah lainnya, minimnya penguasaan kosakata dalam Bahasa Inggris. Saya identifikasi, masalah mereka didasari oleh kurangnya pemahaman tentang materi yang diajarkan guru serta kekurangan pengayaan buku bacaan. Masalah-masalah tersebut dapat diatasi dengan menyediakan buku pelajaran yang lebih banyak dan komprehensif. Saya yakin, jika banyak membaca buku, mereka akan lebih mengerti aturan dasar dalam Bahasa Inggris. Selain materi dari buku dan guru, siswa dapat diberikan materi interaktif seperti musik, film, dan permainan. Saya dan teman-teman Ganesha Bianglala, mengusahakan untuk menyediakan fasilitas multimedia di program Rumah Cahaya. Sebab, belajar bahasa akan lebih mudah jika ada partisipasi aktif dari pesertanya.

Selain itu, saya pikir, motivasi dan inspirasi jadi hal yang berharga. Kita dapat memotivasi dan membuka wawasan mereka tentang hal yang dapat dicapai dengan penguasaan Bahasa Inggris dan pendidikan tinggi. Adanya paparan motivasi dan inspirasi yang kontinyu, semangat mereka akan lebih tinggi untuk belajar. Hal ini penting agar mereka menganggap sekolah bukan hanya sebagai rutinitas, tetapi kunci untuk menggenggam dunia. Saya ingin meyakinkan siswa Desa Sirnajaya bahwa, jangankan kota, dunia pun bisa ditaklukkan apabila mereka mampu berbahasa Inggris dengan baik.

Catatan untuk Pendidikan Indonesia
Selama saya bersekolah hingga akhirnya mengajar, saya sering mengamati perilaku malu bertanya dan menutup diri di kelas. Saya dapat mengidentifikasinya karena saya melihat banyak tatapan kosong para siswa dan mahasiswa setelah jam belajar selesai. Mungkin bagi mereka yang cerdas dan sadar diri, mereka akan segera belajar sendiri materi yang diajarkan di hari tersebut. Namun, bagaimana dengan mereka yang tidak? Saya pikir, ini bukan hanya salah dosen atau guru yang membosankan saat mengajar, namun juga disebabkan budaya malu diolok dan anggapan sekolah dan kuliah hanyalah rutinitas.

Seharusnya malu selama lima menit saat bertanya lebih baik daripada malu seumur hidup karena tidak mengerti. Saat ini, saya juga masih belajar untuk tidak malu saat bertanya hal apapun, meskipun itu hal bodoh. Contohlah T.A. Edison dan Issac Newton. Beliau menjadi penemu besar karena budaya curiousity yang telah dibiasakan sejak kecil. Saya ingin sekolah bukan hanya dianggap sebuah rutinitas. Selama 8 jam di sekolah adalah waktu emas untuk belajar dan berdiskusi dengan teman dan guru. Hanya 2 jam di sebuah sesi perkuliahan adalah waktu yang singkat untuk menggali ilmu dari dosen dan memicu hal-hal besar lainnya.

Belajar adalah Tugas Sepanjang Hayat
Pesan untuk semuanya: Janganlah anggap dirimu pintar dan tahu segalanya karena telah belajar di luar negeri. Teruslah anggap dirimu bodoh dan tidak tahu apa-apa agar dirimu tetap menjadi gelas kosong.
Pesan untuk diri sendiri dan para calon Doktor: Anda bukan jadi semakin jago dan pintar karena bergelar PhD. Anda justru jadi semakin bodoh karena hanya tahu ilmu yang kecil sekali dalam riset. Semoga saya dan kawan-kawan tidak menjadi tinggi hati karena bergelar PhD nantinya.


Penulis: Evelynd dan Naufan Raharya

Share this:
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

One thought on “Pendidikan dari Perspektif Naufan

Comments are closed.