Punya Startup? Bingung Tentang Aspek Hukumnya? Konsultasikan Dengan Ahlinya, Ivan Lalamentik

Komitmen Ivan Lalamentik, anggota PK-53 Ganesha Bianglala untuk Startup Legal Clinic ternyata memikat University of California Berkeley untuk menerimanya menjadi mahasiswa. Tak hanya itu, interviewer LPDP dan YSEALI juga tertarik pada aktivitasnya ini. Tak tanggung-tanggung, semuanya itu menghasilkan Ivan yang sekarang: konsultan hukum dan pengusaha; awardee LPDP & YSEALI; dan calon mahasiswa Law School UC Berkeley.

 

photo657544774620915933


Halo Ivan, boleh cerita tentang aktivitas di Startup Legal ngga? Startup Legal ini berdiri mulai kapan dan dicetuskan oleh siapa?

Pertama berdiri tanggal 1 Juni 2015, sehari setelah saya resign dari kantor law firm sebelumnya. Kebetulan Startup Legal Clinic ini ide dan inisiatif sendiri, lalu mengajak 3 rekan untuk bersama-sama jadi co-founder-nya.

Apa alasan pribadi kamu tertarik join ke sini?

Ada beberapa alasan sebenarnya. Awalnya ketika sedang browsing ke beberapa universitas tujuan saya menemukan bahwa hampir setiap universitas top di Amerika itu punya yang namanya klinik hukum untuk entrepreneurs. Klinik hukum tersebut berdampak sangat besar bagi perkembangan startup di daerah universitas tersebut.

Sementara kalau kita lihat di Indonesia, klinik hukum yang khusus mengenai hukum bisnis seperti ini sepengetahuan saya masih belum ada yang fokus ke aspek praktis. Melihat perkembangan startup yang mulai tinggi, saya memberanikan diri membentuk klinik hukum ini untuk mereka.

Terlebih lagi ketika sedang bekerja di law firm, kita pernah mewakili investor luar untuk suatu perusahaan e-commerce besar di Indonesia. Saat itu saya melihat bahwa founder-nya relatif masih muda dan terlihat perlu pemahaman dasar mengenai hukum bisnis. Dengan membentuk klinik hukum ini saya berharap ke depan dapat menjadi pioneer dan mendorong terbentuk pusat-pusat klinik hukum bisnis di berbagai daerah yang diwadahi fakultas hukum masing-masing daerah tersebut untuk membantu pengusaha perintis dan UMKM.

Hal menarik lainnya adalah diterimanya saya di universitas tujuan dan mendapat beasiswa berkat essay saya mengenai pembentukan startup legal clinic. Saya kira ini merupakan bonus dari komitmen pribadi, dan harapannya rekan-rekan yang join mendapat unexpected benefit yang lebih dibandingkan saya.

Ini kan free yah, trus kalian dapat dana dari mana bwt operasional organisasi dan pribadi?
Ini dia, istilahnya jika di startup itu ialah bootstrapping. Bersama dengan co-founders lainnya kita patungan untuk operasional, sampai dengan bulan ke-lima sudah hampir habis dananya. Namun, saya sadar bahwa membentuk kinik hukum yang notabenenya layaknya komunitas sosial ini tidaklah mudah mencari pendanaan.

Oleh karena itu seringkali kita sebagai individual mendapat project dari rekan startup yang telah berdiskusi secara cuma-cuma dengan kita. Walaupun nilainya tidak seberapa, namun cukup untuk menanggung biaya operasional kita. Untuk saya pribadi, sejak keluar dari law firm sebelumnya, saya menjadikan diri saya sebagai solo-practitioner (istilah lainnya freelancer, namun kurang keren istilah itu hehe). Di samping itu saya juga menjadi konsultan public policy yang pekerjaannya seperti membuat rancangan peraturan perundang-undangan, disamping itu saya selalu terbuka perihal hal yang relatif baru bagi saya.

Saya banyak belajar menjadi seorang pengusaha juga disini, untuk dapat berdiri dan bekerja secara mandiri tanpa ketergantungan terhadap pihak lain yang menjadi atasan kita.

Sekarang cerita ttg #LAWARENESS, sebenernya ini program yang gimana sih?

#LAWARENESS itu program untuk meningkatkan kesadaran hukum kepada rekan-rekan perintis usaha. Di sini kita memiliki beberapa program, yang paling utama ialah #LAWARENESS DISCUSSION sejumlah 5 kali, di mana kita akan undang praktisi hukum dan ahli di bidangnya untuk sharing pengalamannya serta peserta dapat secara aktif bertanya mengenai permasalahan hukum yang dialaminya.

Kedua, kami secara daily basis membuat LEGAL 101, dimana kita menyajikan informasi praktis dan mudah dimengerti kepada rekan-rekan startup. Informasi ini kita share di media sosial kita seperti Instagram, Facebook, Twitter dan LINE.

Selanjutnya, kita juga membuat 5 infografis mengenai informasi yang diperlukan sesuai dengan tema dari #LAWARENESS DISCUSSION. Terakhir, kita membuat MUSIC POSTER, dimana kita memiliki infografis yang berisikan hak cipta dan royalti dari musisi. Ini khusus untuk industri musik, dengan tujuan mengurangi pembajakan dan memberikan pengetahuan mengenai hak dan kewajiban dari rekan-rekan musisi di tanah air. Poster ini rencananya akan di-print dan disebarkan ke studio musik serta sekolah musik di Jakarta dan kota-kota besar di pulau jawa. Seluruh sub-program kami akan tersajikan dalam website kita loh, silahkan cek ke www.startuplegal.clinic

lawareness

 

Rencananya akan terus lanjut? Kalo kamu tinggal sekolah trus gimana? Apakah akan diteruskan rekan sejawat?

Saya punya visi ke depan agar startup legal clinic akan terus exist sampai waktu yang tidak ditentukan. Oleh karena itu salah satu anggota kami ialah mahasiswa dari almamater saya, dengan tujuan untuk keberlanjutan klinik hukum ini. Ke depan saya berencana untuk merekrut mahasiswa-mahasiswa yang se-visi dengan kami. Dikarenakan saat ini telah ada setidaknya 10 anggota termasuk saya, inginnya klinik hukum ini terus berlanjut walaupun saya sedang sekolah.

Di samping itu, saya pun akan tetap aktif secara remote, di mana website kami harapannya menjadi tujuan bagi para perintis usaha untuk mendapatkan informasi yang selalu diupdate secara berkala.

Kan rencananya akan ngadain acara dari Maret – April. Sampai sekarang udah ngadain diskusi umum berapa kali? So far antusiasme dari publik gimana?

Saat ini diskusi kita yang pertama ialah tanggal 5 Maret 2016 dan akan berlanjut setiap 2 minggu sekali dengan jumlah 5 kali sampai dengan tanggal 30 April. Antusiasme saat ini sangatlah positif dari rekan-rekan startup, karena kita dapat membantu mereka memecahkan masalah hukum yang mereka sendiri bingung bertanya kepada siapa.

Jika bertanya kepada mahasiswa, belum cukup kompeten. Jika bertanya ke lawyer di law firm, stigmanya melekat bahwa akan berbayar mahal. Kehadiran kami dapat dikatakan layaknya oase bagi rekan-rekan startup di Jakarta.

Setelah itu, apa rencana berikutnya?

Setelah project #LAWARENESS, rencananya kita ingin ada program yang berkelanjutan yang mana program ini menjadikan klinik hukum kami sebagai platform sosial bagi law firm untuk berkontribusi dalam cakupan area di Jakarta. Program tersebut saat ini sedang dikaji terlebih dahulu kemungkinannya. Disisi lain, kita juga akan melakukan pelatihan ke beberapa institusi yang menaungi startup ataupun UMKM agar edukasi hukum kepada mereka dapat tersampaikan dan harapannya dimengerti.

Ceritain donk tentang keikutsertaan kamu (atau tim) di YSEALI, mulai dari kenapa tertarik ikutan itu trus juga aktivitas selama itu ngapain aja?

Ini hal yang cukup menarik ya. Pertama kali tau YSEALI itu karena iseng browsing dan menemukan adanya grant competition dari mereka. Setelah submit proposal, kami menunggu cukup lama untuk direspon mereka.

Saat pengumuman di bulan Agustus 2015, kita tidak lolos kompetisi tersebut. Namun sekitar bulan November 2015, saya di-email oleh lembaga donor YSEALI bahwa mereka menawarkan saya dana hibah dari kompetisi tersebut. Sempat tidak percaya awalnya, karena kan sudah diumumkan dan kami tidak menang.

Setelah konfirmasi ke kedutaan Amerika Serikat, memang betul lembaga donor tersebut yang memberikan dana hibah. Langsung saja saya balas bahwa kita masih butuh (bahkan sangat butuh hehe). Setelah proses verifikasi selesai dan ditandatangani perjanjian, kita resmi menjadi salah satu pemenang dari kompetisi YSEALI tersebut. Kagetnya ialah ketika bertemu secara langsung dengan pihak lembaga donor, mereka berkata bahwa project kita itu salah satu project favorit mereka, oleh karena itu kita mendapat privilege untuk ditawarkan terlebih dahulu saat November lalu.

Ditambah lagi mereka bilang bahwa pendaftar kompetisi itu ada sekitar 410an project se Asia Tenggara. Di sinilah titik di mana saya sadar bahwa kita bisa dan mampu ikut kompetisi berskala regional. Untuk menghadapi masyarakat ekonomi ASEAN sangatlah perlu dipersiapkan secara matang agar kita semua dapat berkompetisi sehat dengan pesaing dari negara ASEAN lainnya.

Congrats ya atas diterimanya di University of California, Berkeley. dulu dapat LoA duluan atau ketrima LPDP duluan?

Thanks! Kebetulan strategi saya itu dapet LOA dulu baru daftar LPDP. Nyaris sekali saya mendaftarkan LPDP lebih dahulu ketingga menunggu kepastian LOA nya. Namun Alhamdulillah, LOA membuat saya lebih percaya diri untuk mendaftar ke LPDP.

Ada cerita menarik selama seleksi LPDP? Ini test LPDP yang ke berapa?

Kebetulan ini tes LPDP yang pertama, hehe. Persiapan untuk aplikasi LPDP saya siapkan sejak bulan Juni untuk aplikasi bulan Oktober kemarin. Sampai-sampai saya resign untuk mempersiapkan segala sesuatunya, baik aplikasi LPDP maupun sekolah tujuan. Saya tidak suka menyia-nyiakan waktu yang sudah saya alokasikan, jadi memang dengan tujuan aplikasi LPDP saya harus sangat fokus persiapannya.
Cerita yang menarik itu pada saat wawancara, hmmm apa ya. Saya sebelumnya bertanya-tanya seperti apa ya pertanyaan wawancara itu. Setelah mempersiapkan jawaban-jawabannya, ternyata yang ditanyakan itu tidak banyak yang keluar! Justru interviewer banyak bertanya mengenai Startup Legal Clinic hehe.. Alhasil saya jelaskan secara komprehensif apa saja yang sudah saya lakukan saat membentuk klinik hukum tersebut deh

Kalo dilihat dari web Law Berkeley kan ada beberapa bidang minat, trus kamu pilih yang mana? Peminatan yang ingin diambil itu namanya Law and Technology. Saya sadar bahwa tidak terlalu mengerti masalah teknologi, namun saya justru ingin langsung belajar di tempat terbaik yakni di UC Berkeley.

Apa sih yang bikin kamu tertarik buat apply sekolah ke sini?

Menurut saya UC Berkeley itu sekolah yang unik. Satu-satunya sekolah publik yang masuk 10 besar di US beserta lingkungan yang sangat diverse dan bertoleransi tinggi. Lingkungan memang salah satu faktor yang penting untuk mencari sekolah tujuan, ditambah lagi di Berkeley itu dekat dengan San Francisco dan Sillicon Valley yang terkenal dengan area perusahaan teknologi amerika termasyhur. Bahkan Jokowi saja pada lawatan terakhir menyempatkan diri mengunjungi daerah tersebut, apalagi saya dong excited banget hehe.

Kenapa tertarik apply LPDP?

Network dan Pendanaan. Saya sangat percaya pada kolaborasi, dan jika kita dipertemukan dengan putra putri terbaik bangsa, potensinya sangat tidak terbatas. Saya sangat yakin pemimpin bangsa diberbagai sektor akan muncul dari para alumni LPDP. Di sisi lain, ketika saya memutuskan untuk melanjutkan sekolah saya tidak ingin membebani orang tua dengan masalah biaya.

Setelah balik dari sekolah, plannya mau ngapain? Tetap meneruskan startup legal? Kerja di law firm? Atau malah mendirikan another law firm?

Yang pasti saya keukeuh melanjutkan Startup Legal Clinic sampai dapat berjalan dengan sendirinya. Selain itu, saya lebih berminat menjadi pengusaha ya daripada join di law firm lagi hehe… Walaupun tidak menutup kemungkinan nantinya saya mendirikan law firm, saya tetap ingin menganggap diri saya sebagai pengusaha (yang memiliki lisensi advokat hehe).

Tapi satu hal yang pasti, apapun pilihan saya sepulangnya nanti, harus demi kemajuan bangsa Indonesia.

Terakhir, apa kesan ttg PK, PK-53 pada khususnya?

Wah, ini agak susah diungkapkan dengan kata-kata ya hehe.. Di sini saya banyak belajar dengan rekan lintas profesi, dan itu membuka mata saya terhadap realitas permasalahan yang dihadapi di Indonesia. Saya rasa PK-53 akan terus kompak, dan salah satu dari rekan angkatan kita menjadi Menteri hehe..


Penulis: Putri Utaminingtyas

Share this:
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail