Reuni Luar Negeri Perdana Pasca PK

Warnai Dunia! Itulah jargon yang melekat di hati Ganesha Bianglala. Semangat merahnya Kezia Dewi dari Belgia dan kuning cerahnya Rezki Ramadhanty dari Belanda mewarnai reuni luar negeri perdana pasca PK. Ayo simak kisah pertemuan mereka!

Kisah Kezia:

“Mbak… saya sudah di Brussels Centraal, Jangan lupa pakai jaket Gala ya..”

“Whattt????  Okay… okay, beri saya waktu satu jam untuk menyusul ke Brussels Centraal” Jawab saya, ketika menerima pesan telegram dari Mbak Rezki Ramadhanty (Eqi).

Perjalanan dari Leuven ke Brussels dengan kereta memang hanya sekitar 20 menit. Namun, tetap saja pesan tersebut mengagetkan. Saya menerima pesan dari Mbak Eqi terakhir sekitar pukul 9 pagi, dan yang bersangkutan masih di Maastricht, Belanda. Pagi itu, Mbak Eqi dan teman – teman shortcourse nya berdiskusi, hendak mengunjungi Brussels, atau Brugge, atau Ghent atau Leuven saja. Mengingat waktu yang dimiliki hanya satu hari.

“Maastricht-Brussels sekitar 2 jam. Nanti check jadwal kereta di internet ya. Naik kereta tujuan Brussel,Belgia. Turun di Station Brussel Centraal, jangan Brussel Nord. Kalau sudah otw kabarin ya, kususul kesitu, terserah mau kemana ajaa..” Demikian pesan saya yang paling akhir ke Mbak Eqi.

Seperti biasa, ketika kita terburu – buru, maka halangan justru bermunculan. Yah, kereta Belgia memang terkenal telatan. Terlambatnya memang tidak sampai hitungan jam macam Singa Udara sih, tapi lumayan mengganggu. Terlambat 4 hingga 10 menit, bisa mengacaukan perjalanan bilamana kita perlu ganti kereta. Apalagi kalau beda peronnya dari ujung ke ujung.

Tumben, hari itu kereta berhenti tanpa alasan yang jelas di Kortenberg hingga setengah jam. Katanya sih, gara – gara menunggu kereta Thalys lewat. Alhasil, dari perjalanan yang seharusnya 20 menit, saya baru bisa sampai di stasiun Brussels Centraal setelah hampir 1 jam. Di kereta, saya membuka Facebook, dan menemukan status Mbak Eqi yang membuat baper seketika. “Hey, Belgium!! Can’t wait to see you, Mbak Kezia Dewi. Bener ya walau PK cuma seminggu, prsahabatan tetep spanjang masa, meski terpisah di belahan bumi manapun”.

***

Kisah Eqi:

Pasca PK, saya dan Mbak Kezia (Key) sering berkirim kabar melalui telegram. Saya memberitahu bahwa saya akan ke Belanda awal Juni untuk program shortcourse non-degree dari salah satu penyelenggara fellowship Belanda.

Maastricht, kota tempat saya menimba ilmu untuk training ini adalah kota di ujung selatan Belanda yang berbatasan langsung dengan Belgia dan Jerman. Tentu, berkunjung ke Belgia adalah bagian dari rencana saya, mengingat jaraknya dekat. Tetapi ada hal berkesan dibalik rencana itu, yaitu sebuah reuni kecil dengan teman seperjuangan PK, Mbak Kezia Dewi, yang sudah berangkat untuk menjalani kuliah PhD nya di KU Leuven, Belgia.

“Mbak Key, saya sudah mendarat di Schipol Airport, nanti saya kabarin kalau mau ke Belgia.” Demikian saya memberi kabar kepada Mbak Kezia ketika berhasil mendapatkan wifi di bandara.

“Wah akhirnya sampai jugaa. Ditunggu di Belgia yaa, minggu ini aku free, tapi minggu depan ada acara ke Spanyol,” balasnya.

“Okeey Mbak, siap besok kukabarin lagi yaa..”

Sabtu, 4 Juni, saya baru tiba di Amsterdam, jadi belum beli kartu SIM Belanda, dan disini sedikit sulit mendapatkan wifi gratisan di jalan. Perjalanan Amsterdam-Maastricht cukup lama, hampir 3 jam dilalui dengan kereta. Baru esok paginya, saat dirasa sudah istirahat cukup di hotel kampus, saya menghubungi Mbak Key kembali. Instruksi perjalanan yang jelas membuat saya memutuskan  berangkat ke Belgia pagi itu.

Sayangnya, koneksi wifi saya sempat terputus karena saya keluar dari hotel hingga pesan yang terakhir bahwa saya on the way berangkat tidak terkirim! Fyuuh! Pantesan Mbak Key kaget dikabarin kalau saya sudah di Brussels Centraal.

Tetiba di Brussel Central, saya langsung mencari wifi di stasiun dan kami saling kontak kembali. Satu jam kemudian, semua terbayarkan dengan sebuah reuni kecil yang sungguh berharga dan tak pernah kami lupakan. Ini pertama kalinya kami bertemu kembali pasca PK dan di EROPA!!!

***

Kisah Kezia:

Karena sudah sampai Brussels, tentu saja kami tidak mungkin melewatkan kesempatan untuk berfoto di depan Manneken Pis, selain mengunjungi Grote Markt Brussels yang konon paling cantik se-Eropa itu. Ini kesempatan pertama bagi kami untuk reuni dan menjalin silaturahmi di luar negeri.

1

“Mbak Eqi ini yaaa…. pandai bikin orang jadi baper” kata saya mengomentari status Facebook yang tadi terbaca di kereta.

Betulkan… kita sengaja dipertemukan untuk kemudian dipisahkan. Ya, PK mempertemukan kita yang sebelumnya tidak saling kenal, kita dikumpulkan dari Sabang sampai Merauke, berbeda latar belakang budaya dan berasal dari background pendidikan yang beranekaragam. Tapi kita punya satu visi yang sama, yaitu berkontribusi dan membangun Indonesia.  Reuni setelah perpisahan itu akan menjadi sebuah pertemuan yang sungguh tak ternilai harganya. Kiranya kita dapat menjalin silaturahmi sepanjang masa sampai nantinya kita berkeluarga.

PK memang cuma seminggu. Tapi di luar dugaan, PK mengingatkan kembali ke masa – masa sebelum bekerja dulu, masa – masa masih idealis, yang penting tugas dan kegiatan bisa diselesaikan, tanpa perlu meributkan siapa yang mendapatkan credit point. Selain itu, PK memberikan kesempatan berkenalan dengan teman – teman yang luar biasa.

Sekedar menambahkan, kegiatan PK untuk bonding angkatan tentunya bukan bertujuan untuk lucu – lucuan atau sekedar seru – seruan saja. Mengumpulkan awardee dari berbagai macam disiplin ilmu, dari berbagai provinsi di Indonesia, merupakan modal untuk jaringan di masa depan. Yang utama, tentunya sebagai jaringan untuk berbuat sesuatu bagi bangsa setelah selesai studi nanti. Tapi di luar itu, jaringan yang sudah terbentuk merupakan aset bagi masing – masing awardee.

2

“Okay, jadinya gimana nih? Mau ke Atonium? Ke Ghent? Atau ke Brugge? Waktunya memang mepet sih, tapi kita punya cahaya matahari hingga jam 9 malam,” ucap saya, setelah Mbak Eqi dan teman – teman puas berfoto dan mencicipi waffle khas Belgia.

“Ke Brugge aja yuk Mbak Key, World Heritage Sitenya Unesco!”

***

Kisah Eqi:

“Bagaimana kalau kita membuat video singkat untuk menyapa sobat Bianglala?” ujarku pada Mba Kezia. Silahkan nikmati videonya sambil bernostalgia.

Akhirnya, kami mengunjungi Brugge yang terkenal dengan kanal – kanal indahnya, dan kota kuno khas Flanders-nya. Perjalanan dengan kereta dari Brussels memakan waktu sekitar 1 jam. Bersyukur, setelah sekitar seminggu Belgia hujan setiap hari, sore itu kami mendapatkan cuaca yang cukup bersahabat.

“Selama ini melihat Brugge dari internet, cuma bisa bergumam kapan ya bisa melihat kota ini secara langsung. Alhamdulillah, akhirnya diberi kesempatan oleh Allah melihat langsung kota ini. Menurutku, Brugge ini memang menakjubkan. Kami disuguhi pemandangan  kanal-yang cantik macam Venezia di perjalanan kami menuju ke Centrum, tempatnya  Kathedral yang besar dan kokoh. Terasa momentum yang tepat ketika kami jalan-jalan mengitari kota itu di sore hari ditambah kicauan burung yang menambah tenang suasana.

***

Kisah Kezia:

Sekitar pukul 8 malam, kami kembali ke stasiun Brugge. Kami mendapatkan pelajaran berharga, mungkin berguna bagi sobat – sobat Bianglala yang akan melakukan Eurotrip. Di Eropa, melakukan perjalanan dengan kereta sangatlah efektif dan nyaman. Namun, hal yang harus diperhatikan adalah jadwal! Khususnya bila kita ingin ke negara lain dalam kunjungan singkat. Biasanya pada weekend tiket keretanya setengah harga.

Mahasiswa biasanya akan memilih kereta paling pagi untuk berangkat dan ambil kereta paling malam untuk pulang. Layanan kereta dalam satu negara, biasanya sampai lewat tengah malam. Tapi, layanan kereta lintas negara, tidak selalu ada hingga tengah malam. Tambahan pula, beberapa rute keretanya hanya ada satu jam sekali. Keliru melihat jadwal bisa membuat kita membuang waktu menunggu di stasiun.

Malam itu, untuk kereta dari Brugge ke Liege, tidak ada masalah (perjalanan sekitar 2 jam). Tapi kami harus menunggu hampir satu jam untuk kereta berikutnya. Akibatnya, sudah tidak ada lagi kereta dari Liege ke Maastricht nya. Tidak ada pilihan lain bagi kami, selain menginap di Leuven. Yah, meskipun 5 orang harus berdesak – desakan di satu kamar, namun setidaknya keinginan Mbak Eqi untuk mengunjungi Leuven tercapai. 😉

“Ganesha Bianglala, warnai dunia!
Sampai jumpa di belahan dunia lainnya!”

Juni 2016

Ditulis oleh Kezia Dewi dari Leuven, Belgia dan
Rezki Wulan Ramadhanty dari  Maastricht, Belanda
Editor : Evelynd

Share this:
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail