Semester Pertama di Sydney

Anggota Ganesha Bianglala (GB) yang ada di Sydney sudah memasuki masa liburan nih. Mungkin di antara sobat Bianglala ada yang penasaran, bagaimana sih rasanya kuliah di Australia terutama di Sydney? Tim GB Sydney plus satu orang yang nyempil kuliah sendirian di ANU, Canberra habis jalan-jalan bareng ke Newcastle, New South Wales (NSW). Jadi sekalian aja kita coba dengar cerita mereka satu-satu yuk!
Di bawah ini ada Mohamad Noor Rizal (Ijal), Joseph Hendrik (Joe), Andi Setiawan (Andise), Pradita Sibagariang (Dita) dan Naufan Raharya (Naufan).

syd1

Kiri ke kanan: Ijal, Joe, Andise, Dita dan Naufan

Halo.. Halo.. Kalian abis jalan-jalan bareng ya. Seru amat sih kayaknya. Cerita-cerita dikit donk mengenai kuliah dan kesan kalian habis liburan bareng kemarin.

Di Aussie kuliah di mana dan ambil jurusan apa?
Ijal: English Studies at ANU.
Joe: Hukum – University of Sydney.
Andise: Master of Commerce (Specialized in Marketing, Logistic, and Supply Chain) University of Sydney.
Dita: Special and Inclusive Education – University of Sydney.
Naufan: Wireless Engineering (sebenernya namanya Phd in Electrical Engineering, tapi spesifiknya itu) University of Sydney.

syd6

Kiri ke kanan: Ijal, Dita, Naufan, Joe

Khan semester pertama baru aja kelar tuh, kesannya gimana?
Ijal: Sebenernya secara materi sudah terprediksi, tapi karena sudah lama gak nulis, jadi perlu waktu untuk membiasakan nulis lagi.
Joe: Setelah bekerja selama lebih dari tiga tahun, kembali ke dunia perkuliahan itu sangat refreshing. Kebetulan saya tinggal di International House University of Sydney (IH) yang penuh dengan mahasiswa-siswi dari berbagai macam negara. Kegiatan-kegiatan seperti cultural night, IH Ball yang dilakukan di IH membuat semester pertama saya sangat berkesan.
Andise: Semester ini penuh dengan tantangan dan hal-hal yang baru di luar ekspektasi. Overall, saya sangat menikmati semester pertama saya di sini karena saya belajar banyak sekali.
Dita: Kaget sekaligus tertantang. Setiap pelajaran sangat menarik, bisa memberikan insight yang lebih mendalam tentang pendidikan inklusif. Wawasan jadi bertambah luas karena sebelum masuk kelas dan setiap ada tugas diwajibkan baca berjuta-juta jurnal *mulai drama*. Awalnya sih kaget, tapi lama-lama terbiasa juga.
Naufan: Kesannya cukup menarik & surprising. Saya udah publikasi sekitar 8 conference paper & 1 under review journal, tapi saya masih tertegun & masih merasa perlu banyak belajar cara publikasi & tulis paper yg bagus.

Ambil berapa mata kuliah kemarin?
Ijal: 3 courses.
Joe: 4 mata kuliah.
Andise: Saya ambil empat mata kuliah di semester ini.
Dita: 4 mata kuliah yaitu Inclusive Education, Positive Behaviour Support, Meet Students with Special Education Needs through Curriculum, Collaboration and Consultation.
Naufan: Di S3 ga ada kuliah sama sekali. Tapi sempet sit-in beberapa minggu di kelasnya supervisor. Pas awal-awal saya ambil tutorial tentang menulis paper, proposal riset & thesis.

Apa yang dirasa berat selama semester kemarin?
Ijal: Karena saya mengkaji sastra, saya butuh waktu banyak untuk membaca karya sastra, misal dalam satu minggu saya harus selesai baca 3 novel. Manajemen waktu dan ketekunan membaca jadi sebuah kewajiban.
Joe: Memiliki sistem belajar yang sesuai dengan tugas-tugas yang diberikan, baik dalam membaca reading materials sebelum kelas dimulai maupun membuat final paper.
Andise: Hal terberat sebagai lulusan jurusan Teknik di Indonesia dan sekarang kuliah bisnis di Australia adalah menulis essay! Semua komponen penilaian disini membutuhkan kemampuan menulis baik tugas individu, kelompok, maupun ujian. Bayangkan saja, dahulu sewaktu S1 lebih banyak berlatih menyelesaikan masalah saja dan tulisan itu nomor dua tapi sekarang saya harus membuat tulisan yang “indah”, rapih terstruktur dan kritis menggunakan Bahasa Inggris. Hal terberat yang kedua adalah harus hidup bersama dengan orang-orang dengan karakter-karakter dan Bahasa yang berbeda setiap orang punya keunikan budaya dan cara berpikir, terkadang kerja kelompok jadi kurang maksimal karena masih belum bisa berkomunikasi dengan leluasa karena terkendala bahasa, budaya, dan pola pikir.
Dita: Hmm lebih terkait ke bahasa, verbal maupun tulisan.. Agak kesulitan utk nulis essay yang benar-benar singkat, padat, jelas dan berbobot. Terus kalau lagi kerja kelompok, terkadang lagi ngomong eh di tengah” berhenti karena stuck lupa vocab-nya.. Hahaha.. untungnyaa teman-teman kelompok baik-baik bangett, jadi walaupun ‘pause‘ nya lama, mereka sabarr banget banget nunggunya.. Ampe ga enak sendiri.. Hahaha..
Naufan: Di awal-awal semester, saya sempat overwhelmed dg paper-paper yg wajib dibaca. Saya shocked dg banyaknya persamaan matematika yg saya ga ngerti. Di saat seperti itu, saya sempat frustasi, tapi saya mengatasinya dg tetap fokus & revise lagi dasar2 yg saya tidak mengerti. Saya tidak tahu apakah ini berat atau tidak, satu semester kemarin, saya baca sekitar 40an paper & belasan buku. Ya, tapi memang begitu resiko research student, hehe. Kemudian, saya juga harus bisa publish 3 jurnal di top IEEE transaction & letters untuk lulus. Saya anggap hal itu berat, namun saya jadikan itu sbg motivasi, utk bisa publikasi sebanyak-banyaknya.

Puas ga dengan hasilnya?
Ijal: Nilai belum semua keluar, tapi tampaknya sesuai dengan yang diprediksi.
Joe: Hasilnya baru bisa saya lihat tanggal 9 Desember. Jujur ada beberapa mata kuliah yang saya takut nilainya tidak sesuai harapan.
Andise: Tentu masih belum puas dan ingin semester depan lebih baik.
Dita: Hasill hmm hmm.. Puas ga puas sebenernya.. Jadi dosennya suka bilang: ‘the paper content is good‘ dan sejenis itu, tapi keluar-keluar eh nilainya ga sesuai harapan haha. Tapi overall, masih puas walau sedikit *hayo*
Naufan: Masih belum puas sih, sekarang lagi di tahap numerical simulation. Masih perlu banyak baca biar lebih bisa justifikasi riset saya lebih bagus & original dari orang lain.

Kira-kira apa yang bisa diubah jadi lebih baik lagi semester depan?
Ijal: Strategi mengatur waktu dan cara membaca.
Joe: Kuliah di fakultas hukum itu harus rajin membaca. Cara terbaik untuk melakukan perubahan di semester depan adalah lebih banyak membaca dan mencatat hal-hal penting yang ada dalam reading materials sebelum kita masuk ke kelas. Dengan ini kita bisa lebih berinteraksi dengan professor atau lecturer di kelas.
Andise: Ada beberapa hal yang harus ditingkatkan. Pertama, saya harus memperbaiki manajemen waktu untuk belajar karena kuliah ini betul-betul penuh kebebasan dan itu membuat saya menjadi agak terlalu santai. Yang kedua, saya ingin meningkatkan kemampuan menulis. Kemampuan menulis di negeri barat itu bukan hanya tentang grammar yang perfect dan vocabulary yang kaya, tapi juga bagaimana menunjukkan bahwa kita punya pemikiran yang kritis dan analitis. Ini dia yang jadi tantangan utama karena kita di Indonesia tidak banyak diajari bagaimana beragumen dalam menulis tapi terbiasa mengarang bebas.. hehe
Dita: Time management.. Soalnya itu ternyata penting banget dan semester lalu itu waktu untuk belajar dan main-main campur aduk gitu.. Kapan mau belajar ya belajar, tapi sambil main.. Kapan mau main ya main tapi ga sambil belajar haha.. Jadi yaa wajar juga kalau hasilnya kurang maksimal :p
Naufan: Manajemen waktu sangat diperlukan. Saya masih harus belajar caranya karena saya butuh waktu yang cepat untuk belajar & memahami paper.

syd3

Kiri ke kanan: Joe, Dita, Ijal, Naufan, Andise

Asik banget sih kayaknya foto liburannya. Apa hal yang berkesan dari jalan-jalan kalian?
Ijal: Berkumpul kembali dengan teman-teman PK dan menjelajahi tempat baru bersama.
Joe: Yang paling berkesan menurut saya adalah bertemu dengan teman-teman GB. (awwwwh) :p Tapi jujur, walaupun kita satu kota dan bahkan satu almamater, saya jarang sekali bertemu dengan Dita dan Andi, apalagi Naufan yang mengambil PhD. Tidak banyak yang bisa dilihat di Newcastle, tetapi liburan yang dilakukan bersama anak-anak GB pasti berkesan.
Andise: Sydney itu kota yang sangat nyaman karena udaranya bersih, iklim yang indah, transportasi yang terintegrasi, dan jalan untuk pedestrian yang sangat nyaman. Hal yang paling berkesan adalah merasakan sensasi pantai ala Bandung. Biasa di Indonesia kan kalau ke pantai itu panas dan banyak nyamuk, disini pantainya dingin sewaktu winter dan spring. Aneh kan, kita bisa melihat matahari cerah, pantai yang indah tapi dinginnya minta ampun sampai bikin masuk angin. Tapi kalau dipikir-pikir sebenarnya di sini sebetulnya tidak sebegitu istimewa, kadang rasanya Indonesia lebih indah. Andai saja kita menjaga kebersihan, punya transportasi terintegrasi, dan objek wisatanya dapat dikelola tapi tetap GRATIS.
Dita: Jadiii, saya, Jo, Naufan, dan Andi ini anggota PK-53 yang sama-sama kuliah di University of Sydney tapi ga pernah ketemu di semester kemarin. Ketemunya waktu Welcoming LPDP USyd aja pas awal”, sisanya blasssh semua sibuk tenggelam sama tugas-tugas hahaha (pencitraan). Nah akhirnya pas semua essay dan exam berakhir, kita random mau k Newcastle sama Rizal, tamu dari Canberra. Naik kereta-nya 3 jam, pp 6 jam. Di Newcastle nya sendiri 5 jam-an. Memang capek di jalan tapiiii bahagia dan seneng rasanya bisa ketemu temen-temen 1 PK lagi, ngebolang bersama, jalan kaki 12ribu langkah (melebihi iklan Anlene), foto-foto di segala sudut pantai Newcastle, makan KFC (karena cuma ini yg kita yakin rasanya), nyobain nasi padang di Sydney (ndeeessss banget), dan lain lain. Bener-bener jalan sama mereka itu adalah momen yang tepat untuk mengawali liburan musim panas 🙂
Naufan: Yang berkesan dari travelling adalah melihat suasana baru. Saya mencermati, pantai2 di NSW & taman-tamannya sangat terawat dan hijau. Saya juga suka dengan tata kota di NSW. Sangat teratur dan rapi, selain itu pemerintah dan warganya punya kesadaran tinggi untuk menjaga lingkungan.

Jadi gimana, setelah mendengar pengalaman semester pertama mereka apakah jadi tertarik untuk kuliah di Aussie?


Penulis: Putri Utaminingtyas

Share this:
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail