The Story of Sirnajaya #1 Kelas Gala Perdana

Aldian Giovanno mengabdikan dirinya mewakili Ganesha Bianglala dengan menetap di Desa Sirnajaya Kab. Bogor untuk membantu sekaligus mengawasi jalannya program Menyapa Indonesia angkatan 53 “Ganesha Merangkul”. Mari simak kisah Aldian tentang Kelas Gala perdana!

Pagi ini ketika jam masih menunjukkan pukul 06.00, sekerumunan warga telah memenuhi jalanan, masjid, hingga halaman depan rumah Kang Putu. Kang Putu adalah pemilik rumah tempat aku menginap sejak seminggu yang lalu. Tepat pukul 7 pagi nanti seluruh warga akan mengadakan pengajian Rajab hingga tengah hari. Memasuki ruang tamu Kang Putu, berbagai jenis jajanan pasar telah tersedia, lengkap dengan kopi oplet khas bogor dan lintingan tembakau yang siap dihisap.

photo595451023673370639

Tim Gala Mengajar bersama guru dan siswa/i MTs Al Inayah dan MI Darul Falah

Hari ini adalah hari yang ketujuh aku berada di Luweung Datar, sekaligus menjadi hari yang paling aku tunggu. Di setiap Sabtu, secara rutin teman-teman dari tim Gala Mengajar selalu datang untuk mengunjungi desa. Yang pasti selalu ada pada setiap kunjungan kami ialah jam mengajar di kelas untuk siswa SD, MI, maupun MTs. Sabtu ini, Kelas Gala perdana, kami berencana untuk mengajar Bahasa Inggris untuk siswa MTs Al Inayah, MI Darul Falah, dan SDN 04 Sirnajaya.

Pukul 9 lewat akhirnya rombongan tim pengajar Kelas Gala yang terdiri dari Lina Afriana, Joseph Hendrik, Erfan Fiddin, Adiguna Bahari, Bratara Damanik, dan PIC program Gala Mengajar Fajar Mediyawan pun tiba. Aku yang masih berada di kerumunan jamaah pengajian segera menghampiri mereka untuk saling sapa menanyakan kabar karena satu minggu tidak bertemu. Menyadari kalau kami telah terlambat beberapa menit, kami bertujuh langung bergegas menuju SDN 04 Sirnajaya yang terletak cukup jauh dari lokasi kami memarkir kendaraan. Untuk menuju SDN 04 Sirnajaya kami harus turun melewati bukit dan menyebrangi anak sungai melalui jembatan kayu yang kecil.

Kami terbagi menjadi tiga kelompok untuk mengajar pada tiga kelas yang berbeda, yaitu kelas 3, 4, dan 5. Situasi kegiatan belajar di kelas membuat kami terkejut karena mengetahui fakta bahwa mata pelajaran Bahasa Inggris sama sekali belum pernah diajarkan sebelumnya. Namun antusiasme murid-murid yang luar biasa dalam belajar telah menyalakan api semangat kami untuk mengajar. “Dengan adanya pemuda yang mengajar dari kota, biasanya anak-anak akan lebih semangat untuk belajar”, ujar pak Nanang, salah satu guru di SDN 04 Sirnajaya. Kami pun menyadari bahwa seluruh guru yang ada di lingkungan Sirnajaya sangat mendukung kehadiran kami di desa untuk mengajar, walaupun hanya dua minggu sekali.

photo635132870766209065

Suasana belajar mengajar Kelas Gala di SDN 04 Sirnajaya

Memasuki kelas, kami mengajar Bahasa Inggris tentang perkenalan, sapaan, dan kosakata untuk benda-benda yang ada di dalam kelas. “This is a lamp. It is a desk.” teriak siswa kelas 4 SD menirukan kalimat demi kalimat yang diajarkan oleh tim pengajar Kelas Gala. Sangat dimaklumi ketika siswa kerap kesulitan untuk membedakan “chair” dan “chalk” karena keduanya masih terdengar asing bagi anak-anak yang baru pertama kali belajar bahasa Inggris. Namun, ketika melafalkan Bahasa Inggris dari sapu “broom”, kami meminta mereka untuk menirukan suara motor. Seluruh kelas dengan seketika berteriak, “Brooooom”!

Ikuti keseruan Aldian dalam merangkul senyuman anak-anak di Desa Sirnajaya. Nantikan kisah Ganesha Merangkul selanjutnya dalam rangkaian The Story of Sirnajaya.


Penulis: Evelynd

 

Share this:
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail