The Story of Sirnajaya #2 Sakola Abdi Hampir Jadi

Sejak 3 April 2016 lalu, pembangunan Sakola Abdi di Dusun III Desa Sirnajaya Kabupaten Bogor mulai terealisasi. Salah satu program Menyapa Indonesia PK-53 “Ganesha Merangkul” ini hadir sebagai solusi atas permasalahan terbatasnya ruang kelas untuk belajar. Siswa-siswi berhak mendapatkan fasilitas pendidikan yang layak untuk masa depannya kelak. Kembali, Aldian berbagi ceritanya selama menetap di Sirnajaya. Mari kita simak!

Selasa, 19 April 2016

Pagi ini cerah karena semalam hujan turun dengan sangat lebat sejak maghrib hingga tengah malam. Seusai menyantap pisang goreng yang dibuat oleh teteh Nyai, aku segera turun menuju Madrasah Tsanawiyah yang sedang kami bangun, Sakola Abdi namanya. Tepat pukul 07.30 sekumpulan mamang-mamang sudah terlihat siap dengan sekop dan sepatu bootnya untuk bekerja. Mereka biasanya memang sudah siap di lokasi beberapa puluh menit sebelum setengah delapan, entah untuk sekedar menyeduh kopi oplet pahit atau menghisap lintingan tembakau yang menyala.

Adalah mang Ukat, mang Nur, mang Suba, dan mang Saleh, orang-orang yang tidak pernah absen selama kami membangun sakola abdi. Mang Ukat selalu terlihat khas dengan kerpus hitam kesayangannya. Orangnya kecil, namun gesit dan cekatan dalam segala jenis pekerjaan. Sementara mang Nur adalah pria separuh baya pendiam yang sangat produktif dan jarang sekali istirahat selama bekerja. Mang Suba ialah yang paling mahir soal membuat adonan semen. Beliau begitu kuat berjam-jam mengayak pasir dan membuat adonan di bawah sinar matahari yang terik. Yang terakhir, tidak ada yang meragukan kemampuan mang Saleh soal memplester dinding. Pekerjaannya begitu rapi dan presisi.

photo633602131537013209

(Searah jarum jam) Mang Saleh, Mang Nur, Mang Suba, Mang Ukat.

Sebetulnya bukan berarti hanya mereka berempat yang berjasa dalam proses pembangunan madrasah ini. Sebetulnya ada banyak Aa-aa, adik-adik, dan mamang-mamang lain yang dengan keras dan ikhlas membantu proses pembangunan gedung yang sudah lama ‘mangkrak’ tersebut. Hanya saja, pesona mereka berempat bagiku tidak tertandingi. Mereka tidak banyak berbicara, namun bekerja dengan taktis dan efektif. Boleh jadi mang Ukat, mang Nur, mang Suba, dan mang Saleh adalah kuli bangunan paling senior di dataran Luweung Datar. Tak hanya keterampilan dan pengalaman dalam dunia kuli bangunan, namun keikhlasan mereka bekerja pagi sore setiap hari tanpa mengeluh membuatku segan. Aku rasa semua siswa MTs yang nantinya akan menempati ketiga ruangan tersebut harus mengetahui ketulusan mereka berempat dan warga lainnya dalam membangun Sakola Abdi.

Sakola Abdi tampak luar

Sakola Abdi tampak luar

Pekerjaan pembangunan sekolah kami lakukan bersama secara swadaya untuk menumbuhkan rasa kepemilikan warga desa terhadap madrasah Al-Inayah dan memperkuat semangat gotong royong. Semangat swadaya seperti ini sangat jarang dijumpai di kota. Bagiku, masyarakat yang hidup di kota sesekali perlu turun ke desa untuk belajar soal gotong royong. Terlihat dengan jelas dari raut wajah warga Luweung Datar bahwa mereka begitu ikhlas mengucurkan keringatnya demi masa depan cucu-cucu mereka yang lebih berpendidikan dan bermartabat. Melihat Mang Suba yang terus mengaduk semen di tengah gerimis, aku pun malu jika hanya mampu menghabiskan stok kopi oplet yang mereka punya.

Hari ini adalah hari yang ke 18 penduduk desa bergotong-royong membangun MTs Al-Inayah. Kini bangunan kosong tersebut telah dipoles oleh para mamang menjadi tiga ruang kelas yang hampir siap pakai. Tegel keramik telah terpasang rapi, cat biru muda telah menghiasi dinding dalam, serta plafon yang menjulang tinggi menandakan pembangunan Sakola Abdi tidak lama lagi akan selesai. Hanya perlu beberapa ukiran simbolis dan goresan warna cat pada dinding luar untuk menuntaskan apa yang telah kami mulai. Kang Nur yakin kalau dua minggu lagi kami bisa menuntaskan pekerjaan mulia ini.

Sekola Abdi tampak dalam

Sakola Abdi tampak dalam

 

Selama lebih dari 2 tahun terhenti,

kini Sakola Abdi hampir jadi,

demi terwujudnya mimpi,

agar kebermanfaatannya abadi.

 


Penulis: Evelynd dan Aldian Giovanno

Share this:
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail