Tiada Kegagalan. Yang Ada Hanyalah Keberhasilan Yang Tertunda

Setelah Kezia, Gerry dan Adit berbagi cerita, sekarang waktunya sosok pria yang terpilih sebagai ter-Suami-able, Andi Setiawan untuk sharing. Tapi sebelumnya, Sobat Bianglala pada penasaran nggak sih kenapa Andi mendapat predikat ter-suami-able.

“@andise itu dabest deh. Bijak banget dan mampu berpikir jernih di kondisi-kondisi tersulit sekalipun #ahzeek,” – anonymous – PK-53

“kak @andise ini kalo jadi suami pasti mengerti wanita dengan baik. Kalo berantem pasti nyari solusi bareng-bareng dan ga akan egois sendiri.” – lagi-lagi anonim – PK-53

Sebenarnya bagaimana sih Andi kalau dikenal lebih jauh? Kebetulan Andi juga punya pengalaman yang sama dengan Kezia, Gerry dan Adit, yaitu pernah gagal dalam seleksi LPDP lalu kemudian mencoba lagi di batch berikutnya. Yuk simak!

Andi Setiawan

Andi Setiawan – Awardee LPDP Program Magister (S2) Luar Negeri, tujuan University of Sydney, Australia.

Pengalaman Gagal

Halo, nama lengkap saya Andi Setiawan tapi beberapa teman PK-53 memanggil dengan sebutan Andise. Universitas tujuan saya adalah jurusan Master of Commerce di University of Sydney. Sebelum akhirnya lulus di batch 4 tahun 2015 dan bergabung di PK-53, saya sempat mengalami pengalaman yang cukup membuat patah hati, yaitu gagal di batch sebelumnya.

Kalau ditanya kira-kira apa yang menyebabkan gagal, saya rasa saat itu saya tidak fokus dalam sesi wawancara karena sangat gugup. Saya memberi tekanan terlalu besar pada diri sendiri dengan berkata “Saya harus lulus! Harus lulus! Pokoknya harus lulus!”

Saya berpikir demikian karena jika saya tidak lulus maka konsekuensinya begitu besar terhadap rencana masa depan saya. Semakin dipikirkan, saya makin tertekan sehingga justru melewatkan hal yang penting yaitu mempersiapkan diri untuk sesi wawancara dan essay on the spot.

Second Attempt

Alasan utama saya mendaftar seleksi LPDP untuk kedua kalinya adalah karena saya merasa beasiswa dari LPDP adalah beasiswa yang paling menarik. Bukan hanya dari program Persiapan Keberangkatan atau PK ataupun fasilitas yang diberikan. Saya lebih merasa kagum dengan visi misi dan nilai LPDP dan semuanya itu in-line dengan tujuan hidup saya.
Untuk kesempatan kedua di mana merupakan peluang terakhir, tentunya saya tidak ingin mengulang kesalahan yang sama. Saya menetapkan bahwa hal yang paling penting adalah menggali kembali ke dalam diri dan merenungkan motivasi kuliah dan apa yang ingin saya lakukan di masa yang akan datang. Sisanya tentu saja saya melakukan sedikit perbaikan di essay saya, dan menyiapkan rencana cadangan jika tidak lulus sehingga saya maju wawancara dengan tanpa tekanan.

Tips dan Trik ala Andise

Pertama harus punya rencana dan motivasi yang jelas untuk melanjutkan kuliah.
Kedua, berusaha yang terbaik untuk mempersiapkan diri dalam tahap seleksi, termasuk mencari informasi dan membuat essay.
Ketiga, tenang dan percaya diri,dan memiliki tiga mindset berikut ini.
Mindset saya adalah juara karena saya sudah melakukan yang terbaik untuk seleksi ini.
Mindset pasrah pada hasil, apapun hasilnya itu adalah yang terbaik karunia Tuhan.
Mindset bahwa cara untuk mewujudkan impian dan sukses tidaklah hanya dengan beasiswa dari LPDP saja.

Untuk menghadapi wawancara saya sengaja mencari list pertanyaan yang banyak dibagikan di internet dan dari sesi seleksi pertama (kebanyakan pertanyaan itu keluar lagi di sesi wawancara kedua). Berdasarkan pertanyaan tersebut saya kemudian menjawab dengan menuliskan pada kertas dan juga membuat essay singkat untuk tiap pertanyaan. Saya merasa untuk dapat membuat jawaban terstruktur dan efisien maka semua ide harus dicatat dan dirangkai dalam tulisan. Setelah melihat tulisan kita sendiri, maka kita dapat merangkai kata-kata agar menjawab dengan to the point, memiliki argumen terstruktur dan efisien.

Saya tidak terlalu mengkhawatirkan sesi LGD karena saya sudah sering ikut rapat organisasi/kantor. Just be yourself aja. Banyak referensi di internet bahwa LGD harus ini dan itu, tapi saya hanya mengikuti kata hati saya untuk LGD dengan cara saya sendiri dengan prinsip ikut berkontribusi, bersinergi dan menghargai orang lain.

Essay on the spot merupakan tahapan yang butuh perhatian khusus. Saya belajar cara membuat essay yang efisien melalui web ini:
http://www.internationalstudent.com/essay_writing/essay_tips/. Ilmu basic untuk menulis essay di web itu sangat manjur! Very very recommended! Selain persiapan itu, saya tidak ada persiapan khusus lain untuk membaca artikel-artikel tertentu karena memang mustahil untuk membaca semuanya. Saya rasa membaca semua artikel akan sangat mengkonsumsi waktu sehingga lebih baik fokus ke persiapan lain. Tapi pada dasarnya saya memang sudah terbiasa membaca koran setiap hari.

Soal LoA dan Pengalaman Test Substansi

Sewaktu mendaftar LPDP dulu saya masih belum punya LoA. Saya yakin LPDP tidak mewajibkan hal tersebut dan menjadikan hal tersebut sebagai pertimbangan. Di test LPDP batch 4 pun saya juga masih belum punya LoA. LoA unconditional saya baru keluar H+1 seleksi wawancara.
Walaupun tujuan sekolah saya ke luar negeri tapi pada wawancara kedua pertanyaan bahasa Inggris hanya satu pertanyaan seperti untuk melihat kemampuan dasar bahasa Inggris saya saja.

Saat test pertama dulu saya menyadari kekurangan di essay saya yaitu untuk bagian kontribusi dan rencana studi masih terlalu normatif. Saya bahas mengenai Indonesia, namun seharusnya saya lebih banyak membahas tentang diri saya, motivasi saya, dan lingkungan sekitar saya. Akibatnya saya dicecar tentang motivasi diri saya dari yang paling dalam dan karena gugup saya mengiyakan saja serangan dari pewawancara dengan jawaban yang sebetulnya bukan yang sesungguhnya.

Di test kedua saya sudah merenungkan kesalahan saya di seleksi sebelumnya, bahkan tanpa mendapat feedback pun saya sudah tahu akar kesalahan saya dan memperbaikinya. Alhamdulillah saya yakin dengan essay saya sehingga interviewer cukup mendapat gambaran tentang diri saya sehingga tidak banyak pertanyaan yang mereka tanyakan.

Bersyukur Pernah Tidak Lulus.

Judul yang aneh memang, tapi saya mensyukuri saya tidak lolos pada batch sebelumnya. Awalnya memang sangat sulit tapi indah pada akhirnya. Karena tidak lolos maka saya mendapat kesempatan dan mempersiapkan diri untuk kuliah dapat di universitas yang jauh lebih baik. Karena tidak lolos maka saya mendapat banyak teman yang luar biasa di PK53. Well, my friend said that everything will be beautiful in the end. If it’s not beautiful then it’s not the end.

Berada di keluarga PK-53 membuat saya lebih terpacu untuk meningkatkan kualitas diri. Banyak teman-teman Ganesha Bianglala yang merupakan pribadi pantang menyerah, mereka tidak puas dengan pencapaian di suatu titik, sebisa mungkin berusaha untuk meraih yang terbaik. Di sinilah saya juga melakukan review diri sendiri. Saya mau punya level yang sama dengan mereka, dan menolak untuk menjadi yang terbawah, hehehe.

Andi Setiawan – Awardee LPDP Program Master Luar Negeri, tujuan University of Sydney.


Penulis: Putri Utaminingtyas

Share this:
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail