When Life Knocks You Down

10 September 2015, salah satu hari dalam hidup saya yang tidak akan pernah saya lupakan. Di hari itu saya menerima pengumuman yang menyatakan ketidaklulusan saya dalam proses seleksi substansi Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) LPDP. Jujur, saat itu saya merasa sangat kecewa dengan diri saya. Saya terus bertanya mengapa saya sampai tidak lulus. Saya merasa bahwa saya telah mengecewakan orang tua saya dan orang-orang terdekat saya.

photo734404627427076515

Sebelumnya perkenalkan nama saya Joseph Hendrik dan saya berencana untuk melanjutkan studi saya di Sydney Law School (SLS) dalam program Master of Laws. SLS merupakan fakultas hukum tertua di Australia dan telah menghasilkan 6 Perdana Menteri (PM) Australia, salah satu di antaranya adalah Malcolm Turnbull, PM Australia saat ini yang menggantikan Tony Abbot yang juga alumni SLS. Hal ini merupakan salah satu alasan mengapa saya memilih SLS sebagai tempat tujuan untuk melanjutkan pendidikan saya, yakni untuk suatu saat menjadi pemimpin untuk negara saya, Indonesia.

Ketika saya mengikuti seleksi substansi Batch III, saya merasa bahwa saya telah melaksanakannya dengan sebaik mungkin dan tidak ada masalah dalam wawancara, penulisan essay on the spot, maupun LGD. Namun demikian, nasib berkata lain. Setelah pengumuman ketidaklulusan saya, saya mencoba mencari tahu alasan mengapa saya bisa sampai tidak lulus. Saya diberitahukan bahwa ketika proses wawancara, saya tidak dapat memberi keyakinan kepada para interviewer mengenai alasan mengapa saya ingin melanjutkan studi saya ke SLS. Mereka melihat bahwa saya tidak memiliki tujuan yang jelas mengapa saya ingin ke SLS, terutama dalam mata kuliah yang saya ingin ambil.

Jujur, setelah saya membaca hasil wawancara, semangat saya untuk mencoba kembali BPI LPDP justru meningkat. Perasaaan kecewa hanya timbul dalam waktu yang amat sangat singkat dan saya ingin membuktikan bahwa saya layak untuk menjadi awardee. Saya kemudian mengubah beberapa bagian dalam essay-essay yang harus dikirimkan ke LPDP dan melakukan riset atas mata kuliah-mata kuliah yang ada di SLS. Saya pun kembali mendaftarkan diri saya untuk mengikuti seleksi subtansi Batch IV. Puji syukur, saya menerima email yang berisi jadwal saya untuk mengikuti seleksi substansi.

Selain melakukan riset, saya juga meminta orang-orang terdekat saya untuk melakukan simulasi interview dalam Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia agar saya lebih siap. Saya juga bertemu dengan beberapa teman-teman saya yang sudah lulus seleksi substansi dan meminta masukan dari mereka. Hasil dari usaha saya ini adalah saya merasa lebih yakin ketika saya duduk di hadapan 3 interviewer yang akan menentukan nasib saya. Setiap pertanyaan-pertanyaan yang mereka tanyakan sudah saya siapkan dengan matang.

Tanggal 9 dan 10 Desember 2015 merupakan dua hari yang cukup menegangkan. Dalam hal ini, hanya ada satu hal yang dapat saya lakukan yaitu berserah. Saya merasa saya telah memberikan yang terbaik dan keputusan memang bukan di tangan saya. Well guys, sekitar jam 5 sore, saya menerima email yang menyatakan bahwa saya LULUS. Saat itu saya sedang “menikmati” kemacetan ibukota bersama adik dan pacar saya.  Saya tidak dapat menyembunyikan kebahagiaan saya ketika saya menerima email tersebut dan langsung menghubungi orang tua dan oma saya. It was just a really happy moment for me and my family.

Apa poin yang bisa saya ambil dari kejadian ini. Satu, jangan pernah menyerah. Sama seperti judul cerita ini, ketika suatu kejadian dalam kehidupan ini menjatuhkan kita, bangkitlah, jangan menyerah. Dua, tidak ada masalah yang terlalu besar yang tidak bisa kita hadapi. Semua masalah pasti ada jalan keluarnya dan dalam hal ini, saya sangat bersyukur LPDP memberikan kesempatan dua kali bagi para calon awardee. Tiga, selalu bersyukur. Saat kita menghadapi kegagalan, tetap bersyukur, pasti ada alasan mengapa hal itu terjadi dan ada sesuatu yang bisa kita pelajari.

Saya akan tutup dengan sebuah quote dari pendiri perusahaan yang melakukan IPO terbesar di Amerika, Jack Ma.

Never give up. Today is hard, tomorrow will be worse, but the day after tomorrow will be sunshine.”


Penulis: Joseph Hendrik

 

Share this:
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail